Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Salut!! Getol Pelajari Cara Menangani Disleksia, Akademisi ini Dapat Sponsor hingga Belajar ke Inggris

I Putu Mardika • Kamis, 25 Juli 2024 | 00:59 WIB

Ketut Trika Adi Ana akademisi Undiksha Singaraja yang belajar penanganan disleksia hingga ke Inggris
Ketut Trika Adi Ana akademisi Undiksha Singaraja yang belajar penanganan disleksia hingga ke Inggris
BALIEXPRESS.ID-Nasib tak yang tahu. Niat Tulus dalam berkarya ternyata berbuah manis. Seperti yang dialami oleh I Ketut Trika Adi Ana, S.Pd. M.Pd. Dosen Undiksha Singaraja terbang ke Inggris setelah serius dalam mendalami penanganan persoalan disleksia.

Apa itu Disleksia? Disleksia semacam gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis dan mengeja.

Mungkin banyak yang belum tahu persis tentang persoalan disleksia dan cara penanganannya.

Di Sekolah dasar kasus disleksia sering ditemui guru pengajar, namun sering tidak tertangani dengan maksimal.

Rupanya persoalan inilah yang menarik Ketut Trika dalam mempelajari dan mencari Solusi dalam menghadapi kasus disleksia.

Trika bahkan mendapat sponsor untuk mengunjungi Wales guna mempelajari pengajaran bagi anak-anak yang menderita disleksia.

"Saya belajar ke Brynhyfryd Primary School dan Hafod Primary School di Swansea, Wales untuk belajar tentang disleksia. Adapun disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja," kata Trika di Kota Singaraja, Rabu (24/7).

Menurut dia,pihaknya secara intensif mempelajari dan berdiskusi mengenai penanganan anak-anak disleksia di kelas inklusif pada salah satu negara dengan penanganan pendidikan insklusif terbaik di dunia.

Selama satu minggu, Trika mengamati proses pembelajaran di dua sekolah tersebut dan menemukan berbagai praktik terbaik yang menarik.

Anak-anak yang mengalami kesulitan membaca dan menulis diberikan perhatian khusus oleh guru kelas dan asisten guru sejak tahun pertama. 

Kendala yang dihadapi siswa dicatat dengan teliti, dan orang tua diajak berdiskusi untuk memahami permasalahan lebih dalam. Jika siswa terindikasi mengalami disleksia. 

"Mereka akan diarahkan ke guru konseling yang akan melakukan assessment lanjutan dan menyusun program pembelajaran khusus. Program ini mencakup penggunaan media dan teknik pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak disleksia," papar dia.

Lebih jauh, Trika yang juga Sekretaris Yayasan Disleksia Bali ini mengungkapkan bahwa salah satu hal penting pula adalah adanya kolaborasi antara guru kelas, asisten guru, guru konseling, dan orang tua menjadi kunci dalam memecahkan masalah belajar siswa.

Setiap minggu, rapat rutin diadakan untuk membahas kemajuan dan mencari solusi terbaik.

Tidak hanya berhenti di Swansea, Trika juga berkesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya di University College London (UCL).

Penelitiannya mengungkap bahwa guru, orang tua, dan siswa mainstream di Indonesia masih sering salah kaprah dalam menangani anak dengan kecenderungan dyslexia.

Anak-anak ini sering dianggap malas atau kurang cerdas, padahal mereka membutuhkan pendekatan khusus yang belum banyak diterapkan.

Trika mempresentasikan rancangan penelitian dan mendapat respon positif dari peserta konferensi internasional, termasuk dari Uni Emirat Arab, Israel, Hongkong, dan Taiwan.

Banyak pertanyaan dan masukan yang diberikan, menunjukkan betapa pentingnya penelitian ini

Dengan bekal pengalaman dari Wales dan masukan dari konferensi di London, Trika bertekad melanjutkan studinya untuk mengembangkan media dan teknik pembelajaran yang lebih efektif bagi anak-anak dyslexia di Bali dan Indonesia.

Ia berharap, perjalanan ini dapat membawa dampak positif bagi pendidikan inklusif di tanah air.

"Perjalanan ini membuka mata saya akan pentingnya kolaborasi dan pendekatan khusus bagi anak-anak dyslexia. Saya berharap dapat menerapkan praktik baik ini di Bali dan Indonesia, serta mengubah pandangan masyarakat terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus," tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#dosen #disleksia #menulis #akademisi #membaca