Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Sejarah 'Wanita Besi' dari Kerajaan Klungkung, Pimpin Perlawanan Rakyat hingga Kalahkan Jenderal Belanda

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 26 Juli 2024 | 19:31 WIB
Patung Ida I Dewa Agung Istri Kanya saat diresmikan.
Patung Ida I Dewa Agung Istri Kanya saat diresmikan.

BALIEXPRESS.ID - Ida I Dewa Agung Istri Kanya, juga dikenal sebagai Dewa Agung Istri Balemas, adalah seorang ratu yang memimpin Bali dari tahun 1814 hingga 1850. Ia sering disebut sebagai "Ratu Perawan Klungkung" karena memilih untuk melajang sepanjang hidupnya.

Nama "Istri Kanya" sendiri bermakna melajang atau tidak kawin, mencerminkan pilihan hidupnya tersebut.

Dirangkum dari Wikipedia, Dewa Agung Istri Kanya dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Klungkung melawan invasi Belanda di Desa Kusamba. Bersama Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung, ia merancang serangan balasan terhadap Belanda di Kusanegara, yang mengakibatkan tewasnya pimpinan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal A.V. Michiels.

Berkat keberaniannya ini, Belanda menjulukinya "wanita besi" karena keberhasilannya mengalahkan seorang jenderal Belanda.

Lahir dari pasangan Ida I Dewa Agung Putra, yang dikenal sebagai Ida I Dewa Agung Putra Kusamba karena berkedudukan di Kusamba, dan I Gusti Ayu Karang dari Karangasem, Dewa Agung Istri Kanya tumbuh dalam lingkungan kerajaan. Ibunya, I Gusti Ayu Karang, memainkan peran penting dalam mempersiapkan Dewa Agung Istri Kanya menjadi "Ratu Perawan Klungkung".

Dewa Agung Istri Kanya memiliki seorang adik laki-laki bernama Dewa Agung Putra, yang juga dikenal sebagai Ida I Dewa Agung Putra Balemas. Nama "Balemas" diambil karena ia tinggal di salah satu bagian Istana Smarapura yang penting, namun berstatus setingkat lebih rendah dari kamar raja (pesaren gede).

Kedua saudara ini tinggal di Balemas, sehingga Dewa Agung Istri Kanya juga sering disebut sebagai Dewa Agung Istri Balemas.

Setelah wabah penyakit melanda, Dewa Agung Istri Kanya bersama adik laki-lakinya melakukan restorasi istana tua Klungkung dan mendukung pembangunan pura-pura negara. Ia juga mendukung para pendeta untuk menulis puisi dan menulis beberapa buku sendiri.

Baca Juga: Warung Kak Ebag Pemogan Denpasar Terbakar, I Made Sumertha Ngaku Tak Ada Permasalahan dengan Siapa pun

Meskipun seorang wanita, Dewa Agung Istri Kanya dipercayakan untuk memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Klungkung. Namun, waktu pasti naik tahtanya masih menjadi perdebatan di antara para peneliti.

Ada yang menyebut ia naik tahta pada tahun 1809 setelah wafatnya Dewa Agung Putra Kusamba, sementara sumber lain menyatakan tahun 1822 setelah wafatnya Dewa Agung Putra Balemas. Beberapa peneliti berpendapat bahwa sebenarnya terjadi kompromi setelah wafatnya Dewa Agung Putra Kusamba, di mana Dewa Agung Putra Balemas diangkat sebagai raja dengan bantuan dari Dewa Agung Istri Kanya.

Puisi mengenai dirinya, berjudul "Dewa Agung Istri Kanya," terdapat dalam buku "Feminist Poems" oleh Nancy Quinn Collins yang diterbitkan pada tahun 2016. Puisi ini menjadi bukti penghargaan terhadap keberanian dan kepemimpinannya yang luar biasa.


Kini Pemkab Klungkung mengabadikan sosoknya lewat sebuah patung yang berada di bundaran Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Tihingadi, Klungkung. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #ida i dewa agung istri kanya #pahlawan #pemberani #patung #sejarah #ratu #klungkung #kerajaan