Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Songket Beratan Samayaji: Kain Tenun Bali yang Memadukan Estetika, Ekonomi, dan Tradisi

Dian Suryantini • Sabtu, 27 Juli 2024 | 15:48 WIB

Songket Beratan Samayaji, Kain Unik Yang Terbuat Dari Benang Sutra dan Benang Emas
Songket Beratan Samayaji, Kain Unik Yang Terbuat Dari Benang Sutra dan Benang Emas

BALIEXPRESS.ID-Pangliman Desa Pakraman Beratan Samayaji, Made Ngurah Wedana, mengatakan, songket tidak hanya memiliki fungsi keagamaan, tetapi juga fungsi sosial budaya dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Bali.

 Dalam aspek keagamaan, songket memegang peranan penting dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya seperti pernikahan dan metatah (upacara potong gigi).

 Baca Juga: Kisah Luh Resiani Penenun Songket Beratan Samayaji; Meneruskan Tradisi Tenun Songket di Usia Senja

Dari segi sosial budaya, kain songket memiliki nilai artistik dan estetika yang tinggi, serta dapat digunakan untuk mempererat ikatan persaudaraan atau persahabatan (menyama braya).

Dalam fungsi ekonomi, songket menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat karena desain dan produksinya sebagian besar untuk pasar.

Selain fungsinya, kain tenun Songket Beratan memiliki beberapa makna penting.

Baca Juga: Waka PN Denpasar Dilantik, Sosok Srikandi yang Dikenal Garang kepada Koruptor dan Penjahat S**sual 

Pertama, kesakralan yang tampak dalam motif-motif sakral seperti Motif Boma.

Kedua, Makna kesetaraan yang memberi hak kepada semua lapisan masyarakat Bali untuk memproduksi dan menggunakan kain songket.

Ketiga, makna kesejahteraan, yang menunjukkan hasil tenun songket dapat menjadi sumber penghasilan. Keempat, makna kreativitas, yang menunjukkan karya budaya kain tenun songket Bali merupakan buah kreativitas para seniman atau desainer.

Baca Juga: Jelang Tumpek Landep, Layanan Cuci Motor Lapas Tabanan Diserbu  

Kelima, makna pelestarian bahwa Songket Beratan sebagai warisan budaya perlu dipertahankan. Keenam, makna identitas yang mengatakan songket dapat mengomunikasikan jati diri maupun status seseorang. Ketujuh, makna estetika yang tampak dalam motif-motif hasil karya para perajin yang kini semakin langka.

Nama Songket Beratan diambil dari asal tempat kain tenun ini, yaitu Desa Beratan di Kabupaten Buleleng.

Desa tersebut memiliki konsep terkenal yang disebut Agaluh Agandring. Kata 'Agaluh' berarti perempuan yang melakukan kegiatan kerajinan kain tenun songket, sedangkan 'Agandring' berarti laki-laki yang melakukan kegiatan kerajinan emas dan perak.

 Baca Juga: Jelang Tumpek Landep, Layanan Cuci Motor Lapas Tabanan Diserbu

Tenun Songket Beratan memiliki ciri khas dalam motifnya yang mencirikan estetika dan warisan budaya.

Motif-motifnya kebanyakan klasik, dengan ukuran benang emas yang lebih kecil sehingga kainnya renyep (rapat dan indah) serta kerep (rapat dan halus).

Kain khas Buleleng ini menggunakan benang halus, membuat songket menjadi ringan dan tidak berat saat dipakai. Bagian dalam (basang) dan bagian luar (tundun) kain tidak menunjukkan perbedaan mencolok.

 

Editor : Wiwin Meliana
#Nilai Keagamaan #tenun #songket beratan #buleleng