BALIEXPRESS.ID- Songket Beratan menghadapi ancaman kepunahan. Saat ini tidak lebih dari lima unit alat tenun yang bisa digunakan di wilayah desa pakraman Beratan Samayaji Buleleng, dengan hanya tiga orang yang masih aktif menenun.
“Kami khawatir motif Songket Beratan akan punah. Permintaan yang sedikit dan generasi muda yang enggan menenun membuat regenerasi sulit dilakukan. Anak muda sekarang melihat songket ini bukan bisnis yang menjanjikan,” kata Wedana Pangliman Desa Pakraman Beratan Samayaji.
Baca Juga: Songket Beratan Samayaji: Kain Tenun Bali yang Memadukan Estetika, Ekonomi, dan Tradisi
Perajin di Desa Beratan Samayaji telah turun-temurun mewarisi budaya tenun songket dan perak tersebut.
Adapun yang membedakan kerajinan di desa ini dengan daerah lainnya yaitu dari segi motif.
Motif yang digunakan pada kerajinan songket dan perak terutama bokor slaka itu sama, yaitu motif seet mingmang yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur masyarakat desa setempat.
Baca Juga: Kisah Luh Resiani Penenun Songket Beratan Samayaji; Meneruskan Tradisi Tenun Songket di Usia Senja
Konon, perajin meyakini jika motif ini mempunyai filosofi yang sangat bertuah, yaitu sebuah lilitan yang tidak ada ujung pangkalnya yang mampu memberikan potensi energi positif terhadap isi rumah dan lingkungannya, sehingga itu dijadikan sebagai sebuah konsep lama untuk menjaga diri terutama di tempat memproduksi kerajinan.
Akan tetapi di dalam kerajinan songket motifnya lebih bervariasi yaitu terdapat motif lama dan motif baru.
Motif lama merupakan motif yang sudah diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Motif lama terdiri dari empat yaitu seet mingmang, tambalan, patra sari dan patra punggel. Sedangkan motif baru meliputi motif suna cekuh, motif bulan, motif kedis, tapuk manggis dan motif merak.
Baca Juga: Waka PN Denpasar Dilantik, Sosok Srikandi yang Dikenal Garang kepada Koruptor dan Penjahat S**sual
“Motif aslinya itu Seet Mingmang, suna cekuh, patra sari dan patra punggel. Empat itu motif sakral. Dalam prosesnya dulu menggunakan benang pangsi, sekarang pakai sutra,” ujarnya.
Adapun harga jual dari kerajinan kain songket buatan kisaran Rp 3-4 juta, bahkan bisa lebih.
Itu tergantung tingkat kerumitannya. Sedangkan untuk proses pembuatannya bervariasi, tergantung kerumitan motif serta ukurannya. Misalnya saja untuk pembuatan kamen bisa sampai 1 bulan. “Prosesnya cukup lama, mulai dari nyelup atau mewarnai, nganyinin, ngeliying, nuduk atau mendesain, gulung dipandanan dan yang terakhir baru melakukan proses penenunan dengan alat tenun cagcag,” jelasnya. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana