Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Nyuhtebel, Berasal dari Nama Tumbuhan, Menyimpan Cerita Unjuk Kuasa Gelgel di Bali

I Wayan Adi Prabawa • Sabtu, 27 Juli 2024 | 21:54 WIB

Desa Nyuhtebel, desa di Karangasem Bali, dengan nama tumbuhan.
Desa Nyuhtebel, desa di Karangasem Bali, dengan nama tumbuhan.

BALIEXPRESS.ID - Kabupaten Karangasem, Bali, memiliki desa yang bernama Nyuhtebel. Keberadaan desa tersebut terletak di Kecamatan Manggis. 

Desa Nyuhtebel sudah dikenal sejak era Kerajaan Majapahit, memiliki makna yang kaya akan sejarah dan budaya. 

Apalagi saat ini, yang mana dengan populernya Desa Tenganan Pegringsingan dan objek wisata Candidasa, Desa Nyuhtebel yang berada dekat dengan wilayah tersebut juga terkena dampaknya.

Baca Juga: Keris Pusaka yang Sempat Disita Belanda Dipamerkan Bareng Ratusan Senjata di Musem Semarajaya

Dikutip dari web Desa Nyuhtebel, nama Nyuhtebel sendiri berasal dari kata “Nyuh” yang berarti kelapa dan “tebel” yang berarti lebat, merujuk pada hamparan lahan atau hutan kelapa yang lebat yang menjadi ciri khas desa ini.

Menurut Prasasti Kerajaan Gegel yang disimpan di Jeroan I Gusti Mangku Geria, Desa Sidemen, Karangasem, Dalem Watur Enggong diangkat sebagai Raja Gelgel pada tahun Caka 1382 (1460 M). 

Lima tahun setelah penobatannya, pada tahun Caka 1387 (1465 M), Dalem Watur Enggong memerintahkan penyerangan ke Desa Tenganan.

Baca Juga: Dulu Jadi Tempat Masumpah bagi Pencuri, Pura Ulun Kulkul jadi Tempat Nunas Tirta saat Melaspas Kulkul

Penyerangan ini dipimpin oleh I Gusti Ngurah Sideman dari Desa Sidemen dan berhasil menumpas pasukan De Dukuh Mengku Tenganan yang menentang kekuasaan Gelgel. 

Wilayah bekas kekuasaan De Dukuh Mengku Tenganan kemudian menjadi hutan rimba yang dipenuhi pohon kelapa.

Pasukan Depasek Bedolot yang dikenal sakti dan sebelumnya tinggal di Nyuhtebel, diperintahkan untuk mengendalikan keamanan di Tanah Seraya, sementara pasukan Kiyai Agung Pasek Subadra, yang semula tinggal di Nyuhtebel, pindah ke Desa Kusamba. 

Baca Juga: Pura Basuki Besakih: Stana Naga Basuki di Meru Tumpang Tujuh, Simbol Kemakmuran

Pasukan Depasek Bedolot membangun benteng pertahanan di Karanganyar untuk mengawasi dan mengendalikan wilayah selatan Tenganan serta Tanah Seraya.

Seiring berjalannya waktu, permukiman baru terbentuk di wilayah bekas kekuasaan De Dukuh Mengku Tenganan yang dikenal dengan nama Karanganyar. 

Pada tahun 1725 M, komunitas Karanganyar memiliki awig-awig desa dan Tauman Nyuhtebel. Pura Dadia Gde Seraya dibangun oleh Trah Seraya dari pedukuhan Moding, Taman, dan Kaliasem, yang kemudian diikuti dengan pembangunan Pura Desa Maksan Nyuhtebel.

Baca Juga: Beji Waringin Pitu: Tempat Melukat Tersohor di Bali dengan Tujuh Simbol Khusus

Pada tahun 1978, Pura Maksan berubah nama menjadi Pura Puseh setelah pembangunan Balai Agung.

Di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong Kresna Kepakisan, Kerajaan Gelgel mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. 

Namun, setelah wafatnya Dalem Watur Enggong pada tahun 1552 M, kerajaan mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan. 

Baca Juga: Bobon Santoso Buat 1000 Hotdog untuk Turis di Bali, Warganet Sebut Salah Sasaran

Dalem Bekung, pengganti Dalem Waturenggong, menghadapi perpecahan internal yang mengakibatkan kekacauan. Dalem Sagening, yang menggantikan Dalem Bekung pada tahun 1580 M, berhasil memulihkan stabilitas dan memperluas kekuasaan kerajaan.

Setelah wafatnya Dalem Sagening pada tahun 1665 M, Kerajaan Gelgel mengalami kemunduran lebih lanjut.

Kerajaan-kerajaan baru muncul, termasuk Karangasem yang kemudian menggantikan Gelgel sebagai kekuatan utama.

Baca Juga: Sejarah Desa Sukawana Kintamani: Bermula dari Pernikahan Nyomanan dengan Petani Kesuna

Desa-desa seperti Karanganyar dan Nyuhtebel menjadi bagian dari penataan wilayah Karangasem, yang tercatat dalam Awig-Awig Desa Karanganyar dan Tauman Nyuhtebel pada tahun 1725 M.

Pada akhir abad ke-19, Belanda memperluas jajahannya hingga Bali, termasuk Karangasem. Pada tahun 1894, Gusti Gde Jelantik diangkat sebagai Regent Karangasem dan memerintah hingga 1908.

Selama periode ini, I Nengah Mangga diangkat sebagai Perbekel Desa Nyuhtebel. Balai Tegeh dibangun di Banjar Karanganyar sebagai tempat persinggahan Raja Karangasem dan bersidang. Hingga tahun 1970-an, tempat ini dikenal sebagai ‘dibadane’ karena dulunya juga merupakan lokasi kandang kuda untuk raja.

Baca Juga: Truk Terguling di Denpasar Viral: Warganet Soroti Kecepatan dan Muatan Berat

Sejarah Desa Nyuhtebel menggambarkan perjalanan panjang dari kekuasaan kerajaan hingga masa kolonial, menandai perubahan sosial, politik, dan budaya yang membentuk identitas desa ini hingga saat ini. (dir)

Editor : Y. Raharyo
#bali #Desa Nyuhtebel #sejarah #karangasem