Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Jro Gede Genteh: Pemimpin Pasukan Poleng Kesiman, Tertembak Peluru Belanda saat Perang Puputan Badung, Bertahan Hingga Tahun 1956

Nyoman Suarna • Senin, 29 Juli 2024 | 02:44 WIB
BOKAT : Tombak pendek milik pemimpin Pasukan Poleng Kesiman, Jro Gede Genteh, yang kerap dibawa saat perang, kini masih disimpan pihak keluarga.
BOKAT : Tombak pendek milik pemimpin Pasukan Poleng Kesiman, Jro Gede Genteh, yang kerap dibawa saat perang, kini masih disimpan pihak keluarga.

BALIEXPRESS.ID – Kemasyuran Kerajaan Kesiman tak dapat dipisahkan dari prajurit andal yang dimiliki.

Satuan prajurit khusus yang dimiliki Kerajaan Kesiman yang siap mati demi kerajaan diberi nama Poleng Kesiman.

Pasukan ini dibentuk pada pertengahan tahun 1800, untuk menjaga perbatasan wilayah Kerajaan Kesiman di bagian timur.

Pada masa itu, pasukan setingkat Garnisun yang dibekali senjata tombak dan keris berpatroli di sepanjang perbatasan untuk menghadang serangan dari sisi timur  yang berbatasan dengan Kerajaan Gianyar.

Pasukan ini dikomandoi oleh keluarga Mekel Sentaka secara turun-temurun.

Seorang tokoh ternama era Perang Puputan Badung yang menjabat sebagai pimpinan Pasukan Poleng Kesiman adalah Gede Genteh yang lebih dikenal dengan nama Jro Wayan Genteh.

Sebagai pimpinan pasukan elit kerajaan, Gede Genteh dibekali sebuah senjata bokat, yaitu sebuah tombak bertangkai pendek milik kerajaan yang sudah diwarisi secara turun-temurun.

Pada masa perang antara Kerajaan Badung dengan Mengwi untuk perebutan wilayah kekuasaan, Pasukan Poleng Kesiman dipimpin Gede Genteh menggempur Mengwi dari arah utara bersama pasukan Bugis.

Kerajaan Mengwi berhasil ditaklukkan sekitar tahun 1880, tetapi sejumlah wilayah seperti Angabaya dan Jagapati tidak mau tunduk kepada Kerajaan Badung.

Dengan sisa-sisa kekuatan laskar Mengwi yang dipimpin keluarga kerajaan di sekitar wilayah tersebut, mereka menantang untuk bertempur.

Gede Genteh kembali mengemban amanat untuk mengamankan daerah tersebut dari para pemberontak. Berbekal senjata bokat, Gede Genteh memimpin Pasukan Poleng Kesiman untuk menyerang pemberontak.

Dalam sebuah perang tanding, Gede Genteh berhasil melukai  pimpinan pemberontak. Untung pemimpin pasukan tersebut dilarikan pengikutnya ke hutan.

Kemenangan pasukan Gede Genteh di Desa Angabaya menjadi tonggak kemenangan mutlak penundukan Badung atas Mengwi.

Atas prestasi yang diraih, Gede Genteh kembali mendapat kepercayaan memimpin Pasukan Poleng Kesiman memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Badung seperti Plaga, Bukit Jimbaran, Bualu, dan Nusa Dua.

Gede Genteh juga dititahkan menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk menjaga wilayah tersebut.

Awal abad ke-20, pemerintah Belanda yang berkedudukan di Batavia merancang ekspansi untuk memperluas wilayah jajahannya.

Dalam peristiwa kandasnya kapal dagang Cina bernama Sri Kumala di Sanur, Belanda memanfaatkan kesempatan untuk mengirim pasukan ekspedisi dari Batavia dan Surabaya ke Badung.

Pasalnya saudagar Cina bernama Kwee Tek Tjiang melaporkan ke Batavia bahwa isi kapalnya dirampas rakyat Sanur.

Akibatnya, pemerintah Belanda menuduh Raja Badung telah mengingkari kesepakatan  menghapus Hak Tawan Karang sehingga menuntut ganti rugi seluruh kapal yang telah diambil.

Raja Badung yang merasa yakin bahwa rakyat Sanur tidak mungkin berbuat seperti itu, menolak ganti rugi tersebut. Konflik tak dapat dihindari sehingga Belanda mengirim pasukan ekspedisinya untuk menggempur Badung pada 20 September 1906.

Dua hari sebelum bendera perang dikobarkan, Raja Kesiman tewas ditikam oleh seorang abdinya.

Dalam situasi yang sangat genting, Gede Genteh mengambil alih komando, memimpin pasukan Poleng Kesiman.

Gede Genteh dan pasukannya bergerak ke arah barat menuju Denpasar. Sampai di Taensiat, dia menyusun siasat untuk menyergap pasukan Belanda dari belakang.

Walaupun dia tahu tidak mungkin mengalahkan Belanda yang bersenjatakan bedil, sementara pasukannya hanya memegang keris dan tombak, prinsip membunuh satu orang tentara Belanda sebelum dibunuh dalam Perang Puputan, menguatkan hatinya untuk berperang habis-habisan.

Saat iringan pasukan Belanda menuju Denpasar terputus, Gede Genteh menyerukan pasukannya untuk menyerang dari belakang.

Ia mengira yang diserangnya adalah barisan pasukan Belanda paling belakang. Ternyata di belakangnya masih ada pasukan penembak yang kemudian menghujani Gede Genteh dan pasukannya dengan rentetat tembakan. Gede Genteh tersungkur diterjang peluru.

Saat perang sudah usai dan Belanda berhasil menundukkan seluruh kerajaan Badung, tersiar berita bagi masyarakat Badung untuk mengambil jenasah para keluarga yang gugur di medan perang.

Pihak keluarga pun mencari Gede Genteh yang dikiranya sudah tewas. Namun nasib berkata lain, saat dicari-cari, Gede Genteh ditemukan masih hidup.

Namun beberapa peluru bersarang di badannya dan dua peluru bersarang di dahinya.

Dengan berlumuran darah, Gede Genteh dibawa pulang ke Kesiman untuk diobati.

Gede Genteh pulih kembali hingga ajal menjemput di usianya yang sudah tua (tahun 1956), tepat 50 tahun setelah Perang Puputan Badung.

Editor : Nyoman Suarna
#pasukan #Puputan badung #gede genteh #belanda #peluru #poleng kesiman #perang