Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Unik Pura Goa Lawah ; Dihuni Ribuan Kelelawar, Berkaitan Erat dengan Pura Besakih

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 30 Juli 2024 | 19:45 WIB
PURA : Pura Goa Lawah diyakini sebagai stana kepala Naga Basuki yang bertugas menjaga keseimbangan alam Bali.
PURA : Pura Goa Lawah diyakini sebagai stana kepala Naga Basuki yang bertugas menjaga keseimbangan alam Bali.

BALIEXPRESS.ID – Salah satu Pura ikonik di Pulau Dewata berada di Kabupaten Klungkung. Ia adalah Pura Goa Lawah, terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, sekitar 40 km dari Denpasar.


Pura ini terkenal dengan gua yang dihuni oleh ribuan kelelawar, yang menjadi ciri khas utama dan daya tarik bagi wisatawan serta umat Hindu.


Dilansir dari Wikipedia, Pura Goa Lawah bukan hanya sekadar tempat peribadatan, tetapi juga memiliki sejarah penting dalam Perang Kusamba, konflik antara Tentara Kerajaan Hindia Belanda dan rakyat Klungkung yang dipimpin oleh Dewa Agung Istri Kanya. Nama ‘Goa Lawah’ sendiri berasal dari kata ‘Goa’ yang berarti gua, dan ‘Lawah’ yang berarti kelelawar dalam bahasa Bali, sehingga secara harfiah berarti 'gua kelelawar'.


Pura ini termasuk dalam kategori Pura Khayangan Jagat, yakni pura yang memiliki peran penting dalam kosmologi Hindu Bali. Berdasarkan Lontar Padma Bhuwana, Pura Goa Lawah merupakan sthana Dewa Maheswara dan Sanghyang Basukih, dengan fungsi sebagai pusat nyegara-gunung, yang menyimbolkan harmoni antara gunung dan laut.


Pada abad X, Mpu Kuturan, seorang pendeta terkenal, tiba di Bali dan melihat banyak sekte yang berbeda. Untuk menyatukan mereka, Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Murti. Beliau juga berperan dalam pembangunan beberapa pura besar di Bali, termasuk Pura Goa Lawah. Hal ini dibuktikan dalam lontar Mpu Kuturan yang menyebutkan pura ini.


Mpu Kuturan membawa perubahan besar dengan mengajarkan masyarakat Bali cara memuja Sang Hyang Widhi melalui konsep kahyangan atau parahyangan, yang hingga kini masih dijalankan oleh umat Hindu Bali.


Pura Goa Lawah juga lekat dengan peran Danghyang Nirartha. Dimana pada abad XV, Danghyang Nirartha, atau Pedanda Sakti Wawu Rawuh, melakukan perjalanan spiritual ke seluruh Bali, Lombok, dan Sumbawa. Menurut Lontar Dwijendra Tatwa, perjalanan Danghyang Nirartha sampai ke Goa Lawah di mana ia kemudian membangun padmasana sebagai tempat bersthana para Dewa.


Selain itu Pura Goa Lawah juga memiliki hubungan erat dengan Pura Besakih. Diceritakan bahwa Goa Lawah merupakan jalur keluar bagi Ida Bhatara Hyang Basukih dari Gunung Agung, terutama ketika ingin melakukan penyucian di pantai.


Dalam kehidupan masyarakat Bali, pemujaan terhadap kekuatan gunung dan laut merupakan tradisi yang bertahan hingga kini. Pura Goa Lawah, yang awalnya sederhana, kini dihormati sebagai tempat suci yang mempersatukan kekuatan alam dan arwah nenek moyang.

Baca Juga: Simpan dan Kuasai 71 Paket Sabu, Trio Banjar Dikenakan Pasal Berlapis, Terancam Penjara Seumur Hidup


Nyegara-Gunung yang dilakukan di Pura Goa Lawah memiliki makna sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Girinatha (pelindung gunung) dan Baruna (penguasa laut). Umat Hindu memuliakan gunung dan laut bukan sebagai penyembahan terhadap alam, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Widhi yang melindungi dan memberikan kehidupan melalui alam.


Dengan demikian Pura Goa Lawah adalah bukti kekayaan sejarah dan spiritualitas Bali, dari zaman Megalitikum hingga kini. Pura ini mengajarkan kita tentang pentingnya harmoni antara manusia dan alam, serta menghormati tradisi leluhur yang telah membawa Bali menuju kejayaan spiritual yang dikenang hingga saat ini. (*)

Photo
Photo
Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #Pura Goa lawah #nyegara gunung #sejarah #klungkung #Danghyang Nirartha #mpu kuturan