Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Catur Kintamani: Dari Wabah Mematikan hingga Nama Penuh Makna

I Made Mertawan • Jumat, 9 Agustus 2024 | 00:55 WIB
Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID- Desa Catur merupakan salah satu desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Desa Catur yang kini terkenal dengan penghasil kopi dan jeruk ini berbatasan dengan dua kabupaten.

Di sebelah barat adalah Desa Tambakan, Kabupaten Buleleng dan sebelah selatan Desa Catur merupakan wilayah Kabupaten Badung, yakni Desa Belok Sidan.

Kemudian di utara berbatasan dengan Desa Pengejaran, Kecamatan Kintamani, dan Desa Belantih di timur.

Dilansir dari website Desa Catur, desa ini memiliki sejarah panjang. Sebelum bernama Desa Catur, daerah ini dikenal sebagai Desa Padangwah.

Wabah mematikan mengubah segalanya. Konon, pada masa lampau, Desa Padangwah dilanda penyakit menular yang mematikan.

Hampir seluruh penduduk desa menjadi korban. Hanya satu keluarga yang berhasil selamat dengan cara keluar dari desa.

Keluarga ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengungsi ke Desa Tambakan.

Kelompok kedua melanjutkan perjalanan ke Desa Pakisan di Kabupaten Buleleng.

Mengetahui kejadian tersebut, Ida Dalem Kelungkung memerintahkan punggawanya untuk memastikan kabar di daerah kekuasannya itu.

Setelah memastikan kebenarannya, Ida Dalem Kelungkung kemudian mengunjungi Desa Pakisan untuk mengajak warga yang selamat kembali ke Desa Padangwah.

Tak semuanya mengikuti ajakan sang raja karena trauma yang mendalam.

Hanya satu yang bersedia kembali ke Desa Padangwah, yakni si bungsu.  

Itu pun dengan syarat, yakni mengajak beberapa orang membangun kembali Desa Padangwah.

Akhirnya, sang raja mengizinkan si bungsu mengajak empat orang lainnya.

Dalam perjalanan ke desa itu, rombongan singgah di sebuah pura yang terdapat arca bermuka empat dan empat pintu.

Sang raja kemudian mengaitkannya dengan empat orang yang diajak si bungsu, lalu nunas pawisik terkait dengan rencana pemulihan Desa Padangwah.  

Dari hasil tapanya, sang raja mendapat wahyu untuk mengganti nama Desa Padangwah menjadi Desa Catur. Catur ini berarti empat.

Sejak saat itu, Desa Padangwah berubah menjadi nama menjadi Desa Catur yang dikenal hingga sekarang. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Kintamani #Desa Catur #sejarah