Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Gitgit: Berasal dari Kata Batu Padas, Jadi Markas Belanda pada Era Kolonialisme

I Putu Mardika • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 17:48 WIB

Monumen Perjuangan Wira Bhuwana Di Desa Gitgit untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur melawan tentara Belanda pada 12 Mei 1946
Monumen Perjuangan Wira Bhuwana Di Desa Gitgit untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur melawan tentara Belanda pada 12 Mei 1946
BALIEXPRESS.ID-Desa Gitgit yang terletak di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng memang dikenal sebagai jalur akses yang menghubungkan Bali Utara dengan Bali Selatan. Bahkan, karena topografi yang berbukit-bukit, sehingga kawasan ini menjadi markas pertahanan bagi Belanda pada era Kolonialisme.

Dilansir dari website Desa Gitgit, desa ini memiliki topografi yang sangat khas, yaitu berbukit-bukit, bertebing tinggi, dan memiliki jenis tanah vulkanik yang berbatu. Kondisi geografis ini memberikan keindahan alam yang unik dan menjadi daya tarik tersendiri.

Pada masa pemerintahan Belanda tahun 1939, Desa Gitgit pernah dijadikan markas oleh Belanda. Salah satu pegawai Belanda bernama Dr. C. Hooykas yang bertugas di sana, mencatat bahwa Desa Gitgit memiliki potensi alam yang sangat kaya.

Nama "Gitgit" sendiri berasal dari kata "batu padas" yang bergerigi tajam. Konon, jika batu padas ini digali terus-menerus, maka akan muncul mata air.

Desa Gitgit memiliki sejarah panjang dalam bidang perkebunan. Kondisi geografisnya yang subur dan iklim yang mendukung menjadikan daerah ini cocok untuk berbagai jenis tanaman perkebunan.

Desa Gitgit pernah menjadi penghasil cengkeh terbesar kedua setelah Desa Tajun. Bahkan pada masa pemerintahan Belanda, komoditas ini menjadi salah satu produk unggulan daerah.

Selain cengkeh, kopi robusta juga menjadi tanaman andalan petani di Desa Gitgit. Kopi robusta dari Desa Gitgit dikenal memiliki kualitas yang baik dan cita rasa yang khas.

Selain cengkeh dan kopi, tanaman perkebunan lain seperti pala, cokelat, dan jenis kopi lainnya juga banyak ditemukan di Desa Gitgit.

Pada masa pemerintahan Belanda, perkebunan di Desa Gitgit sudah cukup berkembang. Beberapa jenis tanaman perkebunan mulai dibudidayakan secara intensif.

Setelah Indonesia merdeka, sektor perkebunan di Desa Gitgit terus berkembang. Pemerintah memberikan dukungan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Seiring berjalannya waktu, petani di Desa Gitgit terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panennya melalui berbagai inovasi dan modernisasi.

Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem olah basah untuk kopi robusta, sehingga menghasilkan produk kopi dengan cita rasa yang lebih khas.

Produk perkebunan dari Desa Gitgit, seperti kopi robusta, memiliki kualitas yang tinggi dan berpotensi untuk menembus pasar ekspor.

Potensi wisata agro sangat besar, terutama dengan adanya perkebunan kopi yang memproduksi kopi olahan basah.

Meskipun tidak ada data yang sangat spesifik mengenai tanggal pasti pembangunan jalan di Gitgit oleh Belanda.

Namun berdasarkan beberapa sumber dan narasi sejarah, dapat disimpulkan bahwa pembangunan jalan di wilayah ini merupakan bagian dari upaya kolonial Belanda untuk mengakses dan mengelola sumber daya alam di Bali, khususnya di daerah pegunungan.

Daerah Gitgit kaya akan sumber daya alam seperti air, hutan, dan potensi pertanian. Dengan membangun jalan, Belanda dapat lebih mudah mengakses dan mengeksploitasi sumber daya tersebut.

Pembangunan infrastruktur seperti jalan merupakan salah satu cara untuk memperkuat kontrol kolonial terhadap suatu wilayah. Jalan memudahkan mobilitas pasukan dan administrasi kolonial.

Meskipun tidak sepopuler saat ini, potensi wisata di Gitgit sudah mulai terlihat sejak zaman kolonial.

Pembangunan jalan memudahkan akses bagi para pejabat dan pengunjung Belanda untuk menikmati keindahan alam di wilayah tersebut.

Salah satu bukti nyata dari adanya pembangunan infrastruktur jalan oleh Belanda di Gitgit adalah keberadaan Air Terjun Gitgit.

Berdasarkan cerita yang dituturkan oleh warga setempat, Air Terjun Gitgit dulunya merupakan tempat pemandian favorit bagi orang-orang Belanda yang bermarkas tidak jauh dari sana.

Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa pada tahun 1939, Air Terjun Gitgit mulai dikembangkan menjadi tempat wisata atas prakarsa Kepala Liefring Van Der Tuuk atau Gedong Kirtya yang bernama Hooykaas.

Pada 12 Mei 1946, di areal Desa Gitgit tepatnya Pangkung Bangka pernah terjadi pertempuran heroik antara pejuang Indonesia melawan tentara Belanda (NICA). Dari pertempuran itu mengakibatkan sembilan pejuang Indonesia gugur sebagai Kusuma bangsa.

Mereka adalah Ketut Mas (desa Sukasada), Ketut Suka (Bantangbanua, Sukasada), Ketut Sumbandara (desa Ambengan, Sukasada), Made Jiwa (desa Lumbanan, Sukasada), Gede Natih dari (desa Baleagung, Singaraja), Ketut Putra (Kelurahan Penataran, Singaraja), Made Sukadana (Kelurahan Banjar Tegal, Singaraja), Made Kenak (Kelurahan Banjar Jawa, Singaraja), Nyoman Jirna (Kelurahan Banyuning, Singaraja).  

Di tempat inilah akhirnya dibangun Monumen Perjuangan Wira Bhuwana Di Desa Gitgit untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur melawan tentara Belanda. Lokasinya persis di pinggir jalan Singaraja-Denpasar, di titik kilometer 17.(dik)

Editor : I Putu Mardika
#kopi #sukasada #belanda #desa gitgit #sejarah #kolonialisme #air terjun #cengkeh #buleleng