Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kenapa Tidak Disebut Nusa Kedis? Ternyata Orang Madura Pemberi Nama Gilimanuk di Bali, Begini Sejarahnya

Y. Raharyo • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 23:07 WIB
Gelung Kori menjadi pintu gerbang Bali di Gilimanuk, Jembrana. Sejarah Gilimanuk cukup unik.
Gelung Kori menjadi pintu gerbang Bali di Gilimanuk, Jembrana. Sejarah Gilimanuk cukup unik.

BALIEXPRESS.ID - Jika mendengar nama Gilimanuk, kebanyakan orang langsung membayangkan sebuah pelabuhan yang jadi pintu gerbang Bali, sebuah titik penting yang menghubungkan dengan Jawa.

Namun, di balik statusnya yang vital sebagai jalur transportasi, Gilimanuk menyimpan kisah sejarah yang unik, dari hutan belantara hingga menjadi pusat keragaman budaya.

Asal Usul Nama Gilimanuk

Dilansir dari website Kelurahan Gilimanuk menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1920, Gilimanuk hanyalah hamparan hutan lebat yang dihuni oleh satwa liar. Burung-burung eksotis seperti jalak putih dan perkutut berkeliaran bebas di antara pepohonan, menjadikan wilayah ini surga bagi kehidupan liar.

Pada waktu itu, orang Jawa yang sesekali melintasi wilayah ini menyebutnya "Tanjung Selat", sementara orang Bali mengenalnya sebagai "Ujung".

Kala itu, tak ada yang berani menetap di wilayah tersebut karena wilayah ini dianggap terlalu liar dan berbahaya.

Maklum saja, sampai saat ini saja, Gilimanuk menjadi desa atau kelurahan yang dipisahkan hutan dengan desa-desa lainnya. Gilimanuk dijepit Taman Nasional Bali Barat yang banyak dihuni satwa liar dan dilindungi seperti jalak Bali, rusa, hingga kera.

Lebih lanjut, sebuah kisah yang dituturkan para orang tua di masyarakat lokal dan diwariskan turun temurun menyebutkan bahwa pada suatu hari, sebuah perahu nelayan dari Madura yang melintasi Selat Bali dihantam badai besar.

Perahu tersebut terdampar di sebuah teluk yang kini dikenal sebagai Teluk Gilimanuk.

Para penumpang yang selamat dari bencana tersebut terpukau oleh keindahan alam sekitarnya. Di teluk tersebut terdapat pulau-pulau kecil, berupa karang, yang menambah indahnya panorama di waktu pagi maupun sore hari.

Orang Madura menyebut pulau kecil dengan sebutan gili, dan kebetulan di sana banyak buruk yang dalam bahasa Madura disebut Manuk atau Manok.

Setelah itu, kondisi laut kembali normal orang-orang itu kembali melaut dan ke Madura. Mereka kemudian menyebut wilayah itu sebagai Gilimanuk.

Maka dari itu Gilimanuk banyak dikenal dikalangan masyarakat Jawa dan Madura. Melalui proses penyebutan tempat itu disebut Gilimanuk seperti yang kita kenal sekarang secara Etymologi (Sejarah Asal-usul kata Gilimanuk berarti sebuah pulau kecil yang terdapat banyak burung-burungnya).

Itulah kenapa Gilimanuk tidak disebut Nusa Kedis, untuk menyebut pulau kecil (Nusa) yang ada burungnya (Kedis) seperti saat memberi nama Nusa Penida atau Nusa Lembongan, dua pulau kecil di Kabupaten Klungkung. Sebelumnya orang Bali menyebut wilayah Gilimanuk itu Ujung mengingat lokasinya di ujung barat, seperti Ujung Kulon di Banten.

Gilimanuk di Mata Belanda

Sejarah Gilimanuk mulai berubah pada tahun 1930-an, ketika pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk memindahkan sekitar 100 tahanan kelas berat dari Candikusuma ke wilayah yang masih terpencil ini.

Di bawah pengawasan Raden Mas Jasiman dari Negara, sebuah penjara didirikan di Gilimanuk, yang menjadi tempat tinggal pertama di kawasan tersebut.

Tak hanya penjara, kehadiran seorang pegawai perusahaan Belanda bernama Tuan Cola juga membawa perubahan besar.

Dengan izin untuk membuka hubungan dagang antara Jawa dan Bali, Tuan Cola menjadikan Gilimanuk sebagai titik penting perdagangan lintas pulau.

Bersama dengan para tahanan dan pekerja dari berbagai suku, Gilimanuk mulai berkembang menjadi komunitas kecil yang beragam, dengan penduduk dari Jawa, Madura, Makassar, dan Bugis.

Pendudukan Jepang

Selama pendudukan Jepang, Gilimanuk mengalami masa-masa sulit. Jepang membangun pos-pos pertahanan dan galangan kapal, serta memperbaiki jalan dari Negara hingga Singaraja dengan menggunakan tenaga kerja paksa, atau "Rodi".

Namun, di balik kerasnya kehidupan saat itu, Gilimanuk juga memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1946, Gilimanuk menjadi salah satu jalur strategis untuk mendrop senjata dari Jawa bagi pasukan revolusioner yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai.

Banyak pejuang yang gugur dalam pertempuran ini, menjadikan Gilimanuk sebagai saksi bisu dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bangkit Pasca Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, Gilimanuk perlahan bangkit dari keterpurukan. Pada tahun 1948, I Nyoman Dugdug dari Denpasar ditunjuk sebagai pelaksana urusan pabean dan syahbandar di Gilimanuk. Saat itu, arus penyebrangan antara Jawa dan Bali masih sederhana, dengan perahu-perahu kecil menjadi andalan utama.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Gilimanuk berkembang pesat. Pada tahun 1950 saat era Republik Indonesia Serikat (RIS), Pelabuhan Gilimanuk dimasukkan ke wilayah Buleleng, menandai pentingnya pelabuhan ini dalam peta transportasi nasional.

Penduduk Gilimanuk pun semakin bertambah, membawa perubahan signifikan dalam tatanan sosial dan ekonomi wilayah ini.

Dari Kampung Kecil Menjadi Kelurahan

Pertumbuhan penduduk mendorong pembentukan kampung di Gilimanuk, dengan Haji Abdullah Hamid dari Banyuwangi sebagai kepala kampung pertama.

Selannjutnya, pada 1964, kepala kampung dipegang oleh dua orang yaitu Abdul Jalil dan Gede Puspa. Ketika Abdul Jalil meninggal dunia pada 1965, maka Gede Puspa menjadi kepala kampung sendirian.

Dari awalnya hanya sebuat kampung, status Gilimanuk ditingkatkan menjadi banjar dinas. Gede Pusma menjadi Kelian Banjar Dinas dari 1966 sampai 1974.

Pada tahun 1975, statusnya ditingkatkan menjadi Desa Gilimanuk dengan kepala desa  I Gusti Made Berata.

Desa Gilimanuk terus berkembang hingga pada tahun 1981, statusnya berubah menjadi Kelurahan Gilimanuk.

Sejak saat itu, kelurahan ini telah dipimpin oleh berbagai lurah yang berperan penting dalam pembangunan dan pengelolaan wilayah. Lurah pertamanya adalah mantan kepala desa sebelumnya, I Gusti Made Berata. ***

Editor : Y. Raharyo
#bali #gilimanuk #sejarah #jembrana