BALIEXPRESS.ID- Setiap Hari Raya Kuningan, masyarakat Kediri, Tabanan melaksanakan tradisi Ngerebeg.
Jika tidak dilakukan, masyarakat meyakini akan terjadi bencana, seperti wabah penyakit dan serangan hama pada tanaman padi.
Pengelingsir Puri Kediri, Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta, menjelaskan, sejarah tradisi Ngerebeg erat kaitannya dengan kedatangan Rsi Markandeya ke Pulau Bali yang dimulai dari Pura Purancak.
Dari Pura Purancak Rsi Markandeya melanjutkan perjalanan ke arah timur melalui beberapa desa hingga sampai di daerah Tabanan.
“Di Tabanan beliau menemukan sebuah tempat di pesisir pantai selatan di wilayah Desa Beraban," jelasnya.
Di tempat tersebut beliau mendirikan dua tempat pemujaan, diberi nama Pura Tanah Lot dan Pura Pekendungan.
Pada saat itu, masyarakat Desa Beraban sedang mengalami musibah.
Saat itu tanaman mereka diserang hama yang menyebabkan masyarakat mengalami kesusahan karena tidak memperoleh hasil pertanian.
Untuk mengatasi masalah tersebut Rsi Markandeya bertemu dengan Ki Bendesa Beraban (pemimpin Desa Beraban) dan memberikan sebuah keris sakti bernama Ki Baru Gajah.
Kemudian Rsi Markandeya melakukan doa dan pemujaan menggunakan keris Ki Baru Gajah yang tujuannya untuk mengusir hama tanaman pada lahan pertanian.
Selain berdoa, Keris Ki Baru Gajah ini juga harus diusung melewati lahan pertanian yang ada di kawasan Desa Beraban sampai ke Pura Pekendungan.
Sejak saat itu masyarakat melakukan upacara mengusir hama menggunakan keris Ki Baru Gajah yang disebut ngerebeg.
"Ini sesuai bisama Rsi Markandeya. Upacara ini dilakukan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Dan diyakini sebagai upaya untuk mengusir hama dan melestarikan sistem pertanian," urainya.
Hingga saat ini, tradisi Ngerebeg dilakukan setiap 210 hari sekali, tepatnya pada hari Raya Kuningan.
Uniknya, lanjut Sugiarta, pratima yang digunakan terbuat dari pelepah pohon enau.
Selain merupakan tradisi, pelepah pohon enau ini diyakini bisa sebagai sarana mengusir wabah.
Adapun rute perjalanan ritual ngerebeg dimulai dari Puri Kediri, berjalan kaki menuju menuju Pura Luhur Pakendungan yang berjarak kurang lebih 11 kilometer.
Sampai di Pura Pekendungan dilanjutkan dengan ritual mesucian.
Editor : Nyoman Suarna