Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Selat Sukasada: Dahulu adalah Hutan Pandan Lebat, dibangun oleh Putra Ida Bhatara Dalem Tamblingan

I Putu Mardika • Kamis, 15 Agustus 2024 | 16:37 WIB

 

Tradisi Naur Penempuh merupakan tradisi unik di Desa Selat Kecamatan Sukasada Buleleng
Tradisi Naur Penempuh merupakan tradisi unik di Desa Selat Kecamatan Sukasada Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Selat memiliki hubungan historis yang kuat dengan Desa Pasraman Tamblingan. Konon, Ida Bhatara Dalem Tamblingan pernah memerintahkan kedua putranya untuk pindah dari Tamblingan.

Menurut prasasti kuno, Desa Selat memiliki sejarah yang sangat panjang dan erat kaitannya dengan Pura Batur. Kisah bermula ketika Ida Bhatara Dalem Tamblingan memerintahkan kedua putranya untuk meninggalkan istana di Tamblingan.

Putra kedua, Ida Dalem Dewa Rejana, diperintahkan menuju Selat. Dalam perjalanannya, beliau beserta pengikutnya melewati berbagai tempat dan memberikan nama pada setiap tempat tersebut.

Akhirnya, beliau sampai di sebuah tempat yang dikelilingi hutan pandan. Di sinilah beliau memutuskan untuk menetap bersama pengikutnya. Tempat ini kemudian dinamakan "Selat Pandan Banten" atau yang sekarang kita kenal sebagai Desa Selat.

Sebelum moksa, Ida Bhatara Dalem Purwa memberikan tugas kepada para pengikutnya. I Pasek bertugas mengatur upacara keagamaan, I Bendesa memimpin pemerintahan desa, I Pengenter memimpin wilayah Desa Selat, dan I Kubayan membantu I Pasek dan I Bendesa.

Ida Bhatara juga memerintahkan agar dibangun sebuah pura sebagai tempat pemujaan, yaitu Pura Dalem Desa Selat.

Selain itu, tempat yang dipilih oleh putra-putra Ida Bhatara Dalem Tamblingan dikelilingi oleh hutan pandan, menjadikannya lokasi yang strategis dan mudah untuk mencari sarana upacara.

Karena lokasi stana Ida Bhatara dan tempat tinggal para pengikutnya dibatasi oleh hutan pandan, maka tempat tersebut dinamakan "Selat Pandan Banten".

Desa Selat ini juga memiliki peninggalan arkeologis seperti sarkofagus, yang menunjukkan adanya peradaban manusia purba di wilayah ini. Pengaruh dari masa lampau hingga masa kini sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Selat, yang tetap menjaga tradisi dan kepercayaan Hindu yang kuat.

Tak hanya itu, Desa Selat juga memiliki peran dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terdapat bukti bahwa di wilayah ini terjadi perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Setiap tanggal 5 Mei, warga Desa Selat menyelenggarakan persembahyangan bersama untuk menghormati jasa para pahlawan yang gugur dalam perjuangan melawan penjajah.

Nama "Selat" yang sering digunakan untuk nama desa biasanya merujuk pada wilayah perbatasan. Desa Selat juga terletak di wilayah perbatasan, sehingga namanya sesuai dengan karakteristik geografisnya.

Desa Selat, juga memiliki beberapa keunikan yang membuatnya menonjol. Salah satu keunikan utama desa ini adalah posisinya sebagai penghasil cengkeh terbesar di Bali. Tanah yang subur di Desa Selat sangat cocok untuk budidaya cengkeh, kopi, kakao, dan tanaman lainnya.

Mayoritas penduduk desa ini adalah petani, dengan sekitar 80 persen penduduknya bergantung pada pertanian, khususnya cengkeh, sebagai mata pencaharian utama mereka.

Desa ini juga berada di ketinggian sekitar 200 hingga 900 meter di atas permukaan laut, dengan iklim yang sejuk dan tidak terlalu ekstrem, sehingga berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Selain cengkeh, desa ini juga memiliki hutan lindung yang luas serta perbukitan yang ditanami berbagai tanaman produktif lainnya. (dik)

 

Profil Ning Umi Laila
Profil Ning Umi Laila
Editor : I Putu Mardika
#Desa Selat #sukasada #tamblingan #sejarah #buleleng