Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Panji: Sempat Dipimpin oleh Raja Bengis, Ditaklukkan oleh Ki Barak, Jadi Tempat Dibangun Monumen Bhuana Kerta

I Putu Mardika • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 02:19 WIB

Monumen Bhuana Kerta di Desa Panji Kecamatan Sukasada, Buleleng menjadi ikon desa panji sebagai benteng pertahanan pejuang melawan Belanda
Monumen Bhuana Kerta di Desa Panji Kecamatan Sukasada, Buleleng menjadi ikon desa panji sebagai benteng pertahanan pejuang melawan Belanda
BALIEXPRESS.ID-Desa Panji Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik. Berdasarkan berbagai sumber, sejarah Desa Panji kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mitologi dan sejarah kerajaan-kerajaan di Bali.

Pada masa itu, Desa Panji sudah berdiri sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh raja yang bengis. Ki Barak kemudian berhasil menaklukkan kerajaan kecil tersebut dan menjadi pemimpin baru

Sejarah awal Desa Panji dimulai pada masa pemerintahan Dalem Segening di Kerajaan Klungkung. Pada masa itu, Dalem Segening menjalin hubungan rahasia dengan seorang selir bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari wilayah Bali Utara, sekarang dikenal sebagai Buleleng.

Dari hubungan tersebut, lahirlah seorang anak yang diberi nama I Gusti Gede Pasekan, yang juga dikenal sebagai Ki Barak.

Menurut legenda yang masih dipercayai hingga kini, saat I Gusti Gede Pasekan lahir, ia menunjukkan tanda-tanda luar biasa. Ketika ia tidur, cahaya terang terlihat memancar dari ubun-ubunnya.

Melihat tanda ini, Dalem Segening memanggil penasehat istana untuk menafsirkan artinya. Penasehat istana menyatakan bahwa Ki Barak kelak akan menjadi orang yang sangat berpengaruh dan berkuasa. Namun, ramalan ini membuat Dalem Segening khawatir akan masa depan kerajaannya.

Atas saran penasehatnya, Dalem Segening memutuskan untuk mengirim Ki Barak ke Bali Utara. Keputusan ini diambil untuk mencegah perpecahan di dalam kerajaan dan sebagai langkah strategis untuk memperluas kekuasaan.

Ketika Ki Barak berusia 15 tahun, ia diperintahkan untuk pergi ke Bali Utara dan akhirnya menetap di Desa Panji.

Di Desa Panji, sudah ada sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh raja kejam bernama Ki Pungakan Gendis. Peristiwa penting dalam sejarah Desa Panji adalah saat diadakan sayembara besar untuk menyelamatkan kapal besar milik seorang pengusaha Cina yang karam di Segara Penimbangan.

Sayembara tersebut menawarkan hadiah seluruh isi kapal kepada siapa pun yang bisa mengembalikannya ke laut. Banyak orang yang mencoba, termasuk Ki Pungakan Gendis, tetapi semuanya gagal.

Akhirnya, Ki Barak ikut dalam sayembara dan berhasil menggunakan kekuatan gaib dari kerisnya untuk memindahkan kapal tersebut. Atas keberhasilannya, ia diberi seluruh isi kapal, termasuk emas, berlian, kain, dan beras, yang membuatnya kaya raya.

Prestasi Ki Barak yang luar biasa serta dukungan rakyat yang terus meningkat membuat Ki Pungakan Gendis semakin marah dan akhirnya memutuskan untuk berperang melawannya.

Ki Barak berhasil mengalahkan dan membunuh Ki Pungakan Gendis, mengakhiri era pemerintahan lama dan memulai pemerintahan baru di bawah kekuasaan I Gusti Gede Pasekan, yang kemudian dikenal sebagai I Gusti Ngurah Panji Sakti. Setelah dinobatkan sebagai raja, ia diberi gelar Anglurah Ki Barak Panji Sakti.

Di bawah pemerintahan Anglurah Ki Barak Panji Sakti, kepentingan rakyat menjadi prioritas dan ia berhasil menciptakan pemerintahan yang baik, sehingga mendapatkan tempat di hati rakyatnya sebagai pemimpin yang berwibawa, arif, dan bijaksana.

Selama pemerintahannya, ia terus memperluas wilayah kekuasaannya hingga seluruh Bali Utara (Buleleng) berada di bawah kendalinya.

Tidak puas dengan kekuasaannya di Bali Utara, Ki Barak juga berhasil menaklukkan beberapa wilayah di Pulau Jawa, termasuk Blangbangan yang dipimpin oleh Ki Pasung Gerigis.

Setelah masa kepemimpinan Ki Barak, Desa Panji berkembang menjadi pusat pertanian yang subur. Masyarakatnya hidup dari hasil pertanian, seperti padi, palawija, dan buah-buahan.

Di Desa Panji juga terdapat Monumen Bhuana Kerta memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Bali, terutama bagi masyarakat Buleleng.

Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam mempertahankan tanah air. Nama "Bhuana Kerta" sendiri memiliki arti "dunia yang damai"

Pembangunan monumen ini tidak lepas dari sejarah panjang perang puputan yang terjadi di Bali, khususnya di Buleleng. Rakyat Bali, termasuk masyarakat Desa Panji, berjuang dengan gagah berani melawan penjajah Belanda. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #panji #sukasada #belanda #Ki Barak Panji Sakti #monumen #sejarah #Bhuana Kerta #buleleng