Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Les, Buleleng, Pernah Dibumihanguskan Orang Bajo gegara Sabung Ayam

Y. Raharyo • Minggu, 18 Agustus 2024 | 17:52 WIB

 

Sejarah Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali ini cukup unik. Pernah bernama Desa Panjingan, kemudian berpindah karena serangan Orang Bajo.
Sejarah Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali ini cukup unik. Pernah bernama Desa Panjingan, kemudian berpindah karena serangan Orang Bajo.

BALIEXPRESS.ID - Desa Les, yang kini terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, memiliki sejarah panjang yang melibatkan peristiwa besar dan perubahan signifikan.

Sebelum dikenal sebagai Desa Les, daerah ini merupakan Desa Panjingan. Lokasinya sekitar 35 kilometer sebelah timur Kota Singaraja.

Dilansir dari laman Desa Les, disebutkan bahwa nama Panjingan diyakini berasal dari kata "manjing," yang berarti "masuk". Kata ini diduga lantaran Panjingan merupakan pelabuhan atau bandar masuk ke Bali dwipa. Desa ini sudah ada sebelum Abad X Masehi.

Pada zamannya, Desa Panjingan adalah pusat aktivitas yang maju dan memiliki hubungan erat dengan desa-desa sekitarnya, termasuk Desa Kawista di Yeh Buah, Penyusuhan, Kabupaten Buleleng.

Kedua desa ini menjalin hubungan erat dengan Raja Betara Puseh Panjingan, yang dikabarkan sering mengunjungi Pura Kertta Negara di Penyusuhan.

Hubungan ini berlangsung hingga sekitar tahun 1957, ketika Ida Betara Puseh Panjingan "nyumpu" dengan salah satu putri dari Ida Betara di Penyusuhan.

Konflik dengan Wong Bajo

Desa Panjingan pada masa lalu dikenal sebagai desa yang cukup maju karena memiliki hubungan dengan penduduk dari luar Bali yang masuk ke desa atau pelabuhan mereka.

Mereka juga berhubungan baik dengan kelompok nomaden yang tinggal di atas perahu yang biasa disebut Wong Bajo. Mereka menggantungkan hidup pada hasil perikanan, seperti ikan dan kerang-kerangan.

Hubungan yang erat ini tercermin dalam upacara Ngusaba, atau "ngilehang kebo," yang diadakan di Pura Puseh Panjingan.

Baca Juga: Terungkap Asal Api yang Membakar Pasar Ubud Bali, Diduga dari Kios Pedagang Kain

Dalam upacara tersebut, diadakanlah tabuh rah, atau sabungan ayam, dan para anggota kelompok perahu, yang dikenal sebagai Wong Bajo, ikut serta dalam perjudian ayam.

Suatu hari, Wong Bajo ingin memiliki ayam aduan yang istimewa. Mereka menginginkan ayam yang memiliki ciri-ciri putih bersih dengan bulu, paruh, dan kaki yang semuanya berwarna putih, hanya dengan satu batang bulu sayap berwarna hitam.

Ayam seperti ini dikenal sebagai ayam "sa Ginangsi," atau lebih terkenal dengan nama ayam "totos Panjingan."

Singkat cerita, Wong Bajo akhirnya membeli ayam "sa Ginangsi" dari salah seorang penduduk Desa Panjingan.

Ketika upacara Ngusaba/ngilehang kebo di Pura Puseh berlangsung, seperti biasa diadakanlah tabuh rah atau sabungan ayam. Banyak bebotoh yang datang, termasuk Wong Bajo yang telah membeli ayam "sa Ginangsi."

Namun, ayam yang mereka andalkan dan dipertaruhkan ternyata kalah. Kekecewaan dan kemarahan Wong Bajo semakin memuncak setelah mereka mengetahui bahwa ayam "sa Ginangsi" yang dibeli ternyata adalah ayam palsu. Mereka merasa telah ditipu dan dendam yang mendalam mulai timbul.

Beberapa waktu kemudian, Wong Bajo datang kembali ke Desa Panjingan. Mereka berpura-pura baik dan seolah melupakan peristiwa sabung ayam. Padahal sebenarnya mereka memiliki rencana jahat. Mereka menyebarkan biji-biji kapuk di sekitar desa, dan penduduk Panjingan tidak mencurigai apa-apa.

Setelah beberapa tahun, pohon kapuk yang ditanam tumbuh besar dan tinggi. Pada suatu malam, Wong Bajo menyerang desa dengan pasukan mereka secara tiba-tiba.

Serangan mendadak ini menyebabkan masyarakat Desa Panjingan panik dan kalang kabut.

Mereka tidak sempat melawan dan hanya bisa melarikan diri bersama anak dan istri mereka, sambil membawa pusaka dari Pura Puseh, seperti keris, tombak, dan badik. Mereka melarikan diri ke perbukitan di dekat air terjun Yeh Tah. Sementara itu, Wong Bajo merusak perkampungan warga hingga hancur total.

Menjadi Desa Les

Penduduk Panjingan melarikan diri ke daerah perbukitan di sekitar air terjun Yeh Tah, meninggalkan desa mereka dalam keadaan hancur. Di lokasi baru tersebut, mereka mendirikan pemukiman yang dinamakan Desa Bahu, yang berarti "baru" atau "wawu." Kelak, daerah ini disebut Dusun/ Banjar Buhu.

Meskipun demikian, mereka merasa tidak aman dan akhirnya memutuskan untuk memindahkan desa ke sebelah barat di area yang lebih strategis yang dikenal sebagai "supit urang," di mana mereka membangun desa yang kemudian dinamakan Desa Hyang Widhi.

Desa Hyang Widhi mengalami keterbatasan lahan pertanian dan sumber air yang jauh, memaksa penduduk untuk mencari lokasi baru. Mereka akhirnya memutuskan untuk mendirikan desa baru di dekat "munduk Batu Sangihan" dan sungai Mecanggah.

Desa baru ini dinamakan Desa Ngenes, namun karena penulisan aksara Bali, nama tersebut berubah menjadi Desa Les, yang dapat diartikan sebagai "sembunyi" atau "lari" dalam bahasa Kawi.

Kelak, Desa Hyang Widhi tempat mereka membuat pedusunan, kini jadi Dusun/ Banjar Hyangudi.

 

Desa Les dibangun dengan pertimbangan keamanan, tetap dekat dengan lokasi lama untuk memudahkan evakuasi jika terjadi serangan kembali. Pusaka dari Pura Puseh Panjingan, seperti keris dan tombak, dibawa dan ditempatkan di pura baru sebagai perlindungan spiritual.

Integrasi dengan Desa Penuktukan

Kehidupan di Desa Les berlangsung dengan aman hingga muncul sekelompok pelarian dari Puri Bungbungan, Klungkung karena konflik istana dan kerajaan.

Kelompok baru yang menyebut diri bergelar Anak Agung, karena dari keluarga bangsawan, itu merabas hutan untuk membangun permukiman di area timur Desa Les.

Para pendatang itu pun mendapat teguran dari petinggi Desa Les. Namun, setelah negosiasi, mereka diperbolehkan untuk menetap dengan syarat-syarat menghilangkan kebangsawanan (istilahnya nyineb wangsa) karena di Desa Les tidak mengenak Tri Wangsa atau kasta.

Juga dilarang menggunakan sor singgih atau bahasa alus. Melainkan harus menggunakan bahasa kasar atau umum.

Para pendatang itu juga diharuskan ikut desa pekraman dan menyungsung pura di desa.

Baca Juga: Sejarah Desa Panji: Sempat Dipimpin oleh Raja Bengis, Ditaklukkan oleh Ki Barak, Jadi Tempat Dibangun Monumen Bhuana Kerta

Seiring berjalannya waktu, lebih banyak penduduk datang dan membentuk pasar, yang kemudian dikenal sebagai Desa Penuktukan. Desa Les dan Penuktukan akhirnya menjadi satu desa pakraman Les Penuktukan, meskipun tetap memiliki status desa dinas terpisah.

Mereka bersama-sama menyembah Kahyangan Tiga yang terletak di Desa Les, termasuk Pura Sanggah Desa, Pura Naga, dan Pura Segeha, dengan struktur pemerintahan yang melibatkan perwakilan dari kedua desa. ***

 

Editor : Y. Raharyo
#bali #Bajo #Suku Bajo #tejakula #desa les #sejarah #buleleng