Sejarah Desa Gobleg, seperti banyak desa di Bali, memiliki akar yang kuat dalam budaya dan tradisi Bali, serta dipengaruhi oleh sistem sosial dan agama Hindu yang dominan di pulau tersebut.
Nama Desa Gobleg berasal dari kata "Gobed," yang berarti kukur atau parut. Seiring waktu, kata ini mengalami perubahan menjadi "Gobleg." Nama Gobed ditemukan dalam naskah Babad Gobleg, yang menyebut "Indu Gobed" beberapa kali.
Namun, sumber sejarah tentang Desa Gobleg sangat sedikit. Salah satu sumber yang ditemukan adalah Prasasti Gobleg, yang disimpan di Gedung Simpen di Desa Gobleg, serta beberapa naskah seperti Babad Gobleg, Babad Dalem, Babad Pasek, dan sejarah Bali.
Dalam Babad Pasek, nama "Gobleg" muncul secara utuh, sementara di bagian lain, "Indu Gobed" yang tampaknya kemudian berubah menjadi "Gobleg." Nama ini dikenal luas oleh masyarakat, dan beberapa bahkan memujanya sebagai tokoh suci.
Meski belum ada sumber pasti mengenai waktu berdirinya Desa Gobleg, ada kemungkinan desa ini sudah ada sejak abad ke-10, berdasarkan prasasti Gobleg yang menyebut Desa Hunusan, yang kini merupakan bagian dari Desa Gobleg.
Dalam sejarah, tokoh Ngurah Panji Landung yang disebut dalam Babad Gobleg dianggap sama dengan Gusti Ngurah Panji Sakti dari Babad Buleleng, yang menyerang Blambangan pada tahun 1697.
Ini menandakan adanya hubungan antara Desa Gobleg dengan Gusti Ngurah Panji Sakti, terutama karena di Desa Gobleg terdapat Pura Blambangan.
Secara keseluruhan, dari berbagai sumber yang ada, dapat disimpulkan bahwa Desa Hunusan, yang kini bagian dari Desa Gobleg, sudah ada pada abad ke-10, dan nama "Gobleg" kemungkinan muncul antara abad ke-16 hingga ke-17. Nama ini telah dikenal sejak itu, baik sebagai nama orang maupun jabatan.
Prasasti Gobleg juga mengungkapkan bahwa dari abad ke-10 hingga ke-14, Desa Tamblingan, yang kini berada di sekitar Danau Tamblingan, merupakan pusat pemerintahan, kebudayaan, dan spiritualitas.
Wilayah ini termasuk Hunusan, Pangi, Kedu, dan Tengah Mel, yang berada di bawah kekuasaan Desa Tamblingan.
Setelah kunjungan Arya Kenceng ke Desa Tamblingan pada abad ke-14, keadaan Desa Tamblingan mulai tidak terdengar lagi, kemungkinan akibat letusan gunung berapi yang memaksa penduduk untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti wilayah Hunusan, yang kini dikenal sebagai Desa Gobleg.
Desa Gobleg diyakini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan dihuni oleh leluhur yang mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian utama.
Tanah yang subur di kawasan pegunungan ini sangat cocok untuk bercocok tanam, terutama kopi, cengkeh, dan berbagai tanaman hortikultura.
Kehidupan masyarakat Gobleg sangat erat kaitannya dengan adat istiadat dan kepercayaan lokal, di mana upacara adat dan keagamaan masih dilakukan secara rutin hingga kini.
Selama masa penjajahan Belanda, Desa Gobleg, seperti banyak desa lainnya di Bali, mengalami perubahan, terutama dalam hal administrasi dan struktur sosial. Namun, masyarakat setempat tetap mempertahankan tradisi dan adat yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Di masa kini, Desa Gobleg menjadi salah satu tujuan wisata di Bali Utara yang menarik karena keindahan alamnya, terutama pemandangan Danau Buyan dan Danau Tamblingan yang bisa dinikmati dari desa ini.
Selain itu, tradisi dan budaya yang masih kental menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman otentik kehidupan masyarakat Bali. (dik)
Editor : I Putu Mardika