Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Tari Baris Nang Dudu di Desa Pujungan: Ungkap Kisah Jahil Lelaki Tua yang Sengaja Dibunuh untuk Hilangkan Sifat Buruk

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 21 Agustus 2024 | 01:13 WIB
BARIS NANG DUDU: Sejarah Tari Baris Nang Dudu berkaitan dengan kehidupan agraris masyarakat Desa Pujungan Tabanan.
BARIS NANG DUDU: Sejarah Tari Baris Nang Dudu berkaitan dengan kehidupan agraris masyarakat Desa Pujungan Tabanan.

BALIEXPRESS.ID -  Kabupaten Tabanan yang dikenal sebagai lumbung pangan di Bali, tidak saja memiliki tradisi mengolah areal persawahan, tetapi juga mitologi yang berkaitan dengan pemeliharaan tanaman.

Hal tersebut tersirat dalam Tari Baris Nang Dudu yang berasal dari Desa Pujungan Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan.

Tari baris ini ternyata merupakan re-interpretasi dari sebuah cerita rakyat di Desa Pujungan.

Menurut Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan, Ni Luh Nyoman Sri Suyati, tari Baris Nang Dudu ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan cara menghilangkan sifat buruk yang menganggu ketenteraman masyarakat.

"Dari penelitian yang kami lakukan di Desa Pujungan, kisah Nang Dudu ini sangat berat kaitannya dengan aktivitas pertanian yang dilakukan oleh masyarakat  di Desa Pujungan pada masa lalu," jelasnya.

Tari baris Nang Dudu berkisah tentang seorang lelaki tua yang memiliki sifat usil dan tidak manusiawi yang selalu merusak tanaman perkebunan masyarakat di Desa Pujungan.

Karena sifat jahilnya ini, Nang Dudu sengaja dibunuh oleh masyarakat untuk menghilangkan sifat buruk yang mengganggu kegiatan masyarakat di Desa Pujungan.

Dilanjutkan Suyati, secara filosofi, menghilangkan jejak Nang Dudu berarti menghilangkan sifat buruk pada diri sendiri.

Sehingga dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat bisa saling menghormati antar masyarakat.

Tari baris Nang Dudu biasanya dipentaskan saat upacara Ngusaba Nini (upacara yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Dewi kesuburan) di Desa Pujungan.

Tari ini menjadi simbol penetralisir sifat Bhuta agar menjadi sifat Dewa.

Tarian ini ditarikan oleh delapan orang yang mengenakan pakaian seperti tokoh Nang Dudu, menggunakan makhota dari bulu ayam.

Dalam pementasannya, Tari Baris Nang Dudu menggunakan instrumentasi mandolin.

"Instrumen ini merupakan salah satu musik tradisional khas Pupuan. Gending Nang Dudu mengacu pada idiom ecet ecetan khas Pupuan," tambahnya.

Editor : Nyoman Suarna
#sifat #jahil #pujungan #dibunuh #Baris Nang Dudu #tari #lelaki tua #buruk