BALIEXPRESS.ID- Desa Tanglad yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, memiliki sejarah yang diyakini menjadi asal usul nama desa tersebut.
Seperti halnya banyak desa di Bali, nama Desa Tanglad berasal dari kisah perjalanan yang kaya akan nilai sejarah.
Dikutip dari YouTube Kantor Camat Nusa Penida, diceritakan bahwa asal-usul Desa Tanglad berkaitan dengan rencana tirtayatra yang dilakukan oleh sekelompok orang dari Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Pada zaman dahulu, setelah Hari Raya Kuningan umat Hindu di Bali, sekelompok rombongan dari Desa Ketewel berniat melakukan tirtayatra ke Pulau Nusa Penida.
Mereka menyeberang menggunakan sebuah perahu dari Ketewel menuju Nusa Penida.
Namun di tengah perjalanan, mereka dihadang cuaca buruk. Angin kencang, gelombang tinggi, dan arus laut yang kuat membuat perahu mereka terombang-ambing di tengah laut.
Perahu tersebut akhirnya terseret ke bagian selatan Nusa Penida, tepatnya di sekitar tebing curam.
Perahu mengalami kerusakan parah, dan seluruh penumpangnya berjuang untuk menyelamatkan diri.
Di antara para penumpang, ada seorang awak perahu yang mahir memanjat tebing.
Ia kemudian membantu rekan-rekannya satu per satu untuk mencapai daratan.
Setelah berhasil bertahan hidup di puncak tebing yang curam itu, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di tempat tersebut.
Namun, suatu hari, pemimpin rombongan memerintahkan salah satu anggotanya untuk meninggalkan tempat itu untuk menyusuri wilayah bagian timur Nusa Penida.
Orang tersebut, bersama adiknya, meninggalkan kelompok mereka dengan berat hati.
Setelah menempuh perjalanan, mereka tiba di sebuah tempat di bagian timur dan memutuskan untuk beristirahat di sana.
Meskipun telah berada di tempat baru, mereka selalu merindukan rekan-rekannya.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk menetap di tempat itu dan menamainya Tanglad, yang berarti "berpisah dengan rekan-rekan."
Kisah ini menjadi bagian dari sejarah Desa Tanglad dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat akan perjalanan dan perjuangan leluhur mereka di Nusa Penida. (*)
Editor : I Made Mertawan