Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal-Usul Desa Pacung: Kata Pancang Berarti Kuat, Begini kaitannya dengan Pura Ponjok Batu

I Putu Mardika • Senin, 26 Agustus 2024 | 04:37 WIB

Pelinggih perahu di depan Pura Ponjok Batu desa Pacung, Kecamatan Tejakula Buleleng
Pelinggih perahu di depan Pura Ponjok Batu desa Pacung, Kecamatan Tejakula Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Pacung adalah salah satu dari 10 desa yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

Meskipun sejarah tertulis Desa Pacung belum ditemukan dengan pasti, ada beberapa sumber yang dipercaya yang memberikan informasi penting untuk merangkai sejarah singkat desa ini.

Diketahui bahwa dahulu terdapat sebuah kerajaan bernama Kertha Sari Waringin (sekarang dikenal sebagai Desa Julah) yang dipimpin oleh Raja Yudodana. Raja Yudodana dikenal sebagai pemimpin yang sangat taat beragama dan memiliki minat yang kuat dalam seni, termasuk seni lukis, tari, dan suara.

Namun, pada suatu waktu, kerajaan ini diserang oleh kelompok bajak laut dari luar wilayah, menyebabkan sebagian penduduknya melarikan diri ke selatan ke wilayah yang sekarang disebut Banjar Batu Gambir, sementara sebagian lainnya melarikan diri ke barat dan menetap di Desa Sembiran.

Di Desa Sembiran, penduduk yang melarikan diri kemudian mendirikan sebuah kerajaan baru yang dipimpin oleh Raja Seri Jana Sadu Warmadewa.

Di bawah kepemimpinannya, kerajaan ini berkembang pesat, dan Raja Seri Jana Sadu Warmadewa menetapkan beberapa aturan ketat berdasarkan ajaran agama.

Salah satunya melarang pernikahan antar keluarga misanan dan mengusir keluarga yang melahirkan tiga anak perempuan berturut-turut ke tempat yang lebih jauh dari pemukiman utama.

Seiring berjalannya waktu, kelompok yang diusir ini semakin berkembang dan mendirikan sebuah banjar baru yang disebut Banjar Kubuanyar. Ketika semakin banyak penduduk yang menetap di Banjar Kubuanyar, muncul keinginan untuk mendirikan desa baru yang kemudian dikenal sebagai Desa Pacung.

Nama "Pacung" berasal dari kata "Pancang," yang berarti penahan atau penguat, dengan awalan "Pa" yang merujuk pada orang-orang Pasek. Sejak dulu, kepemimpinan Desa Pacung baik di tingkat adat maupun administratif dipegang oleh orang-orang Pasek.

Di sisi lain, Desa Pakraman Bangkah, yang terdiri dari dua banjar dinas, yaitu Banjar Dinas Alassari dan Banjar Dinas Antasari, awalnya dihuni oleh orang-orang yang dikeluarkan dari Desa Sembiran karena menderita penyakit yang dianggap sulit disembuhkan, seperti sakit lever dan kusta.

 Nama "Bangkah" berasal dari kata "Bang," yang berarti merah, melambangkan kelahiran atau kehidupan baru, dan "Kah," yang berarti berkah atau perlindungan dari Ida Hyang Widhi Wasa.

Selain itu, di desa Pacung juga terdapat kahyangan Jagat yakni Pura Ponjok Batu diyakini sebagai tempat suci yang didirikan oleh Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta Hindu yang sangat berpengaruh di Bali pada abad ke-16.

Beliau dikenal karena perjalanannya di seluruh Bali untuk menyebarkan ajaran agama Hindu dan mendirikan banyak pura sebagai tempat pemujaan.

Menurut legenda, Dang Hyang Nirartha tiba di tempat ini selama perjalanannya mengelilingi Bali. Saat itu, beliau menemukan sebuah batu besar yang menonjol di atas laut dan merasakan aura spiritual yang kuat dari tempat tersebut.

Karena keistimewaan dari tempat tersebut, Dang Hyang Nirartha memutuskan untuk mendirikan pura di sana dan memberikan nama "Ponjok Batu," yang berarti "batu yang menonjol" dalam bahasa Bali.

Pura ini kemudian menjadi tempat pemujaan yang penting, terutama untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari laut, mengingat lokasinya yang berada di tepi pantai.

Pura Ponjok Batu menjadi pusat spiritual bagi masyarakat di Desa Pacung dan sekitarnya. Masyarakat setempat sering mengadakan upacara dan persembahyangan di pura ini, terutama yang berkaitan dengan laut dan keselamatan nelayan

Keberadaan pura ini Sebagai salah satu pura yang paling penting di wilayah tersebut, Pura Ponjok Batu berfungsi sebagai tempat suci yang menguatkan ikatan spiritual masyarakat Desa Pacung. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #tejakula #hindu #pura #pacung