BALIEXPRESS.ID- Upacara Memukur atau yang dikenal dengan nama upacara Atma Wedana dalam tradisi umat Hindu di Bali biasa dilakukan secara berkelompok dan bisa waktu penyelenggaraannya biasanya diagendakan beberapa waktu sebelumnya.
Hal ini karena persiapan upacara yang cukup banyak, lantas kapan waktu terbaik untuk menyelenggarakan upacara memukur ini dan kenapa harus dilakukan pada rentang waktu tersebut?
Baca Juga: Bupati Jembrana Ajak Tokoh Puri Bangkitkan Kewibawaan Puri di Jembrana
Menurut Penyusun Kalender Bali, I Gede Sutarya, waktu yang tepat untuk menyelenggarakan upacara memukur ini adalah pada sasih (bulan) Kasa (pertama) hingga Ketiga, dalam perhitungan kalender Bali.
"Upacara memukur atau Atma Wedana sebaiknya dilakukan pada sasih(bulan) pertama hingga ketiga pada perhitungan kalender Bali. Hal ini karena pada periode tersebut, posisi matahari yang berada di belahan bumi utara,” jelasnya.
Apa kaitannya, antara arah Utara dan pelaksanaan upacara memukur?
Baca Juga: Prihatin Kasus Guru SMPN 2 Kerambitan, Dewan Pendidikan Ingatkan Bijak di Media Sosial
Sutarya menjelaskan dalam Mitologi Hindu, arah Utara dianggap sebagai arah untuk mencapai surga, sehingga ketika posisi matahari berada di belahan bumi utara atau yang dalam Jyotisha Sastra (Ilmu Astronomi Hindu) dikenal dengan nama Utarayana, diyakini menjadi jalan terang bagi Sang Pitara untuk mencapai surga.
Selain itu dalam Mitologi Siwa Purana dikatakan Sutraya juga disebutkan pada masa tersebut diyakini pintu menuju alam nirwana sedang terbuka, yang dilambangkan dengan terlihatnya rasi bintang Kartika di sisi Utara.
Baca Juga: Prihatin Kasus Guru SMPN 2 Kerambitan, Dewan Pendidikan Ingatkan Bijak di Media Sosial
"Dari Mitologi ini, disebutkan rasi bintang Kartika sudah kembali ke orbitnya, menjadi pertanda jika Putra Dewa Siwa yakni Dewa Kartekiya sedang berada di orbitnya, yakni di belahan bumi Utara, sehingga menjadi jalan terang untuk menuju nirwana," paparnya.
Dengan kondisi tersebut, maka upacara yang berkaitan Atma Wedana, karena disebutkan Sutarya pada periode tersebut, bumi sudah kembali mendapat perlindungan dari Dewa Kartikeya sehingga segala bentuk wabah penyakit yang ada di Bami sudah mulai musnah.
"Selain itu Dewi Uma sebagai Dewi Kesuburan juga sudah kembali ke Bumi untuk mengembalikan kesuburan tanah di Bumi, sehingga satu pada masa tersebut, dipercaya juga oleh para petani di Bali sebagai waktu yang tepat untuk menanam padi,” paparnya. (gek)
Editor : Wiwin Meliana