Dilansir dari website Desa Alasangker, diceritakan awalnya desa ini dikenal dengan nama Desa Tenaon, sama seperti nama Desa Adat saat ini, yaitu Desa Adat Bale Agung Tenaon. Menurut para tetua desa, nama Tenaon berasal dari kata "Tanah Aon," yang berarti Tanah Abu.
Dikisahkan bahwa di masa lalu, di sebuah kawasan yang disebut Belatungan, seorang tua atau Dukuh ingin memperluas pedukuhan. Daerah itu disebut Belatungan karena dipenuhi oleh tumbuhan sejenis kaktus.
Dukuh Sakti kemudian menebas tumbuhan tersebut dan membakarnya dengan kesaktiannya. Api yang berkobar dengan cepat tidak hanya membakar tumbuhan kaktus, tetapi juga hutan sekitarnya, sehingga daerah itu penuh dengan abu.
Akibatnya, tempat tersebut dinamakan Tanah Aon (tanah yang penuh debu akibat pembakaran), yang kemudian berubah menjadi Tenaon.
Desa Tenaon pada masa lalu terdiri dari beberapa kawasan, yaitu Alas Aeng, yang sekarang menjadi Banjar Dinas Alasangker. Bengkel, yang sekarang menjadi Banjar Dinas Bengke
Banjar Paras, Belatungan, Banjar Asem, yang sekarang menjadi Banjar Dinas Tenaon. Juwuk Manis, yang sekarang menjadi Banjar Dinas Juwuk Manis, Pumahan, yang sekarang menjadi Banjar Dinas Pumahan dan Pendem, yang sekarang menjadi Banjar Dinas Pendem
Seiring waktu, pada masa penjajahan Hindia Belanda, diceritakan bahwa Belanda kewalahan menghadapi perampok di daerah Sasak (Pulau Lombok) karena para perampok tersebut memiliki kesaktian yang tinggi.
Pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Singaraja kemudian mencari penduduk dengan kekuatan yang setara untuk menumpas para perampok tersebut.
Dalam pencariannya, pemerintah Hindia Belanda menemukan Ketut Jiwa/Dauh, yang sering disebut Toh Jiwa, dari Banjar Alasangker, yang dianggap memiliki kesaktian tinggi.
Ketut Jiwa/Dauh dijemput oleh kendaraan militer Belanda, namun karena tubuhnya yang berat (mungkin karena membawa pusaka), kendaraan Belanda tidak mampu mengangkutnya, sehingga Ketut Jiwa/Dauh harus berjalan kaki ke Pebean Sangsit dan melanjutkan perjalanan dengan kapal laut menuju Pulau Lombok.
Setelah tiba di Sasak, Ketut Jiwa/Dauh bertarung melawan para perampok yang meresahkan masyarakat Sasak dan pemerintah Hindia Belanda. Pertarungan yang sengit tersebut akhirnya dimenangkan oleh Ketut Jiwa/Dauh, meskipun ia mengalami luka di bagian bahu.
Karena keberhasilannya menumpas para perampok, Ketut Jiwa/Dauh dianugerahi piagam dan lencana oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika ditanya oleh Belanda tentang asalnya, Ketut Jiwa menjawab bahwa ia berasal dari Alasangker.
Piagam yang diberikan oleh Belanda tersebut mencantumkan nama Ketut Jiwa/Dauh dari Desa Alasangker. Sejak saat itu, secara administratif, Desa Tenaon berubah menjadi Desa Alasangker yang membawahi enam Banjar Dinas, yaitu BD Alasangker, BD Bengkel, BD Pendem, BD Pumahan, dan BD Juwukmanis.
Desa Alasangaker juga memiliki Tradisi "Megelang Gelang. Tradisi ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari rangkaian upacara adat atau keagamaan di desa tersebut.
Prosesi ini melambangkan ikatan persaudaraan dan kebersamaan di antara warga desa, serta sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Dewa-Dewi yang mereka puja.
Tradisi ini juga berfungsi sebagai pengingat untuk menjaga kesatuan dan harmoni di dalam komunitas desa.
Ritual ini biasanya dilaksanakan dalam suasana penuh kebersamaan, disertai dengan berbagai bentuk upacara lainnya, seperti persembahan sesajen, tari-tarian, dan musik tradisional Bali.
Upacara Megelang Gelang juga dapat melibatkan prosesi keliling desa yang dipimpin oleh pemangku adat atau tokoh masyarakat setempat.
Selain itu, tradisi ini sering diiringi dengan doa dan mantra yang diucapkan untuk memohon perlindungan, keberkahan, dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa.(dik)
Editor : I Putu Mardika