BALIEXPRESS.ID - Bagi yang melintas di Bedugul, pasti tidak asing dengan stroberi atau strawberry. Memang, kawasan Bedugul yang masuk wilayah Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, merupakan penghasil utama stroberi.
Tapi, tahukah kamu bahwa budidaya stroberi di Candikuning merupakan yang pertama kali ada di Indonesia.
Jauh sebelum adanya budidaya serupa di desa-desa lain, seperti Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, maupun di Desa Baturiti, Tabanan, hingga Kintamani.
Bahkan, stroberi baru dibudidayakan di Ciwidey, Cianjur, atau di Rancabali, Bandungpada pertengahan 1990-an.
Dikutip dari penelitian I Wayan Buda Parmadi Arimbawa berjudul Sejarah Pembudidayaan Tanaman Strawberry di Desa Candikuning, Baturiti, TabananBali (1986-2012), disebutkan Ada beberapa faktor yang membuat budidaya stroberi berkembang pesat di Candikuning:
1. Keadaan Alam yang Mendukung
Candikuning berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, dengan iklim sejuk dan suhu rata-rata 20° C.
Kondisi ini sangat ideal untuk budidaya stroberi, dengan tanah yang subur dan cocok untuk berbagai jenis pertanian.
2. Nilai Ekonomi yang Tinggi
Stroberi memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di pasaran, dengan harga yang relatif stabil dari tahun ke tahun. Hal ini membuat banyak petani tertarik untuk menanam stroberi sebagai sumber penghasilan utama.
3. Pengolahan yang Sederhana
Pengolahan stroberi tidak memerlukan teknologi yang rumit, sehingga mudah diadopsi oleh para petani yang sebelumnya telah berpengalaman dalam menanam sayur-sayuran.
4. Potensi Agrowisata
Kebun stroberi di Candikuning juga dimanfaatkan sebagai tempat agrowisata, menarik minat wisatawan yang ingin menikmati pengalaman memetik stroberi langsung dari kebunnya.
Sang Pioner
Dalam penelitian ini disebutkan bahwa sang pioner budidaya stroberi adalah orang Bali bernama I Wayan Puja.
Disebutkan, Wayan Puja mendapatkan bibit stroberi untuk budidaya strober dari seorang turis asal Australia.
"Beliau menjelaskan bibit strawberry ini beliau dapatkan dari tourist asing yang berasal dari Australia atas petunjuk dari Nyoman Lugra yang merupakan teman beliau," tandasnya.
Atas petunjuk dari temannya yang bernama Nyoman Lugra, Puja mulai menanam stroberi di tanah desa yang subur.
Menyadari potensi ekonomi dari buah berwarna merah ini, petani lain di Desa Candikuning pun mulai tertarik mengikuti jejaknya.
Mereka menanyakan kepada Wayan Puja tentang bibit stroberi.
Seiring waktu, stroberi menjadi salah satu komoditas utama desa ini, selain sayur-sayuran yang sudah lebih dahulu dibudidayakan.
Perkembangan Teknologi dan Sistem Budidaya
Pada awalnya, sistem budidaya stroberi di Candikuning masih sederhana, dengan menggunakan mulsa jerami sebagai media tanam.
Namun, pada tahun 1992, para petani mulai mengenal teknologi baru berupa mulsa plastik, yang terbukti lebih efektif dalam meningkatkan hasil produksi.
Penggunaan teknologi ini merupakan awal dari modernisasi dalam budidaya stroberi di Candikuning.
Selain itu, petani stroberi di Candikuning mulai menyadari pentingnya kerja sama dan pembinaan dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian.
Kelompok-kelompok tani pun dibentuk untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Hal ini berdampak positif pada perkembangan budidaya stroberi di desa tersebut.
Agrowisata Stroberi dan Masa Depan
Pada tahun 2008, agrowisata stroberi mulai diperkenalkan di Candikuning. Wisatawan yang berkunjung ke Bedugul kini tidak hanya bisa menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan pengalaman memetik stroberi sendiri.
Beberapa kebun stroberi bahkan menyediakan jus stroberi segar yang menjadi favorit para pengunjung.
Agrowisata stroberi ini telah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, yang ingin merasakan langsung suasana pedesaan Bali sambil menikmati hasil bumi yang segar.
Dengan dukungan dari masyarakat dan teknologi yang terus berkembang, budidaya stroberi di Candikuning diharapkan akan terus maju dan menjadi salah satu komoditas unggulan yang memperkuat perekonomian desa. ***
Editor : Y. Raharyo