Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sisi Kelam Kuta Tempo Dulu, Pernah Jadi Pusat Perdagangan Budak, Ditukar dengan Tikar Spanyol: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Senin, 2 September 2024 | 01:23 WIB
POTRET: Potret Bali Tempo Dulu.  Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, Kuta pernah menjadi pusat perdagangan budak, hanya ditukar dengan tikar Spanyol.
POTRET: Potret Bali Tempo Dulu. Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, Kuta pernah menjadi pusat perdagangan budak, hanya ditukar dengan tikar Spanyol.

BALIEXPRESS.ID - Kuta memiliki sejarah panjang. Kuta dikenal pertama kali sebagai kota pelabuhan, pusat perdagangan dan pelayaran baik lokal, nasional maupun internasional.

Menurut catatan sejarah, dikutif dari Buletin Fakultas Sastra Unud, tahun 1987, Kuta merupakan pelabuhan utama di Bali pada abad ke-19.

Ketika perdagangan budak mewarnai perdagangan Bali, abad ke-17-19, Kuta memiliki andil cukup besar.

Banyak budak dikirim melalui pelabuhan Kuta. Perdagangan budak itu sendiri sudah berlangsung sejak zaman VOC.

Saat itu Kompeni banyak membeli budak Bali untuk dijadikan tentara untuk kekuatan militernya.

Untuk mengatur pengiriman budak tersebut, VOC mendirikan kantor dagang di Kuta (1600-1700).

Menurut catatan sejarah, tahun 1684 kepala kantor Belanda di Kuta membeli seorang budak wanita sangat cantik dengan harga 18 ringgit.

Kemudian pada akhir tahun 1805, Kuta disebut-sebut sebagai pasar budak paling penting di Bali.

Said Hasan al Habeschi, seorang keturunan Arab, dikirim ke Bali oleh Belanda tahun 1824.

Tujuannya, mendapatkan izin untuk menyewa budak. Para budak itu akan dijadikan tentara dan digaji.

Jika kontraknya sudah berakhir, para budak itu akan dibebaskan. Namun permohonan hanya disetujui Raja Badung dan tahun 1825 kedua belah pihak membuat kontrak.

Isinya agar pihak raja Badung menjual seribu orang budak tiap tahun untuk dijadikan serdadu. Seorang budak ditukar dengan dua puluh lembar tikar Spanyol.

Tahun 1826 JS Wetters membuka kantor untuk pemerimaan calon serdadu di Kuta.

Kemudian tahun 1828 kedudukan Wetters diganti Dubois. Sejak inilah Kuta makin ramai  dan menjadi kota dagang terbesar di Bali, terutama perdagangan budak dan candu.

Tercatat, dua buah kapal Prancis dari Mauritius bersandar di Kuta untuk membeli 500 orang budak.

Kapal ini datang tiap awal tahun dan akan kembali  sekitar bulan Maret. Setiap tahun, rata-rata 500 orang Bali diperdagangkan ke Mauritius.

Pada tahun 1858, sekitar 500 budak dikirim oleh perahu-perahu Bugis dari Kuta menuju Sulawesi, Bangka, Riau dan Singapura.

Perdagangan budak ini sempat dikecam seorang pendeta dan sinolog Inggris bernama Medhurst yang mengunjungi Bali tahun 1829.

Pendeta ini menulis, perdagangan budak dilakukan secara legal oleh pemerintah yang disuplai dari Kuta.

Pernah salah seorang keluarga raja Tabanan datang ke Kuta, membawa seorang budak laki-laki untuk ditukar dengan sebuah pistol.

Medhurst juga menyebutkan, di Kuta terdapat pasar utama bagi penjualan budak dan sebagai lalu lintas kapal dagang budak.

Setiap tahun, ribuan budak dijual kepada pedagang-pedagang asing dengan harga f. 1000 per orang. Kadang-kadang budak itu ditukar dengan beras.

Editor : Nyoman Suarna
#budak #Pusat #sejarah #perdagangan #spanyol #Tikar #kuta