Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Magarang Nasi di Tanjung Bungkak, Ada Kaitannya dengan Prasasti Blanjong Sanur: Ungkap Kisah Penyerangan ke Puri Satria

Nyoman Suarna • Senin, 2 September 2024 | 02:32 WIB
TRADISI: Magarang Nasi merupakan salah satu tradisi unik di Desa Adat Tanjung Bungkak, Denpasar yang erat kaitannya dengan sejarah yang diungkap Prasasti Blanjong.
TRADISI: Magarang Nasi merupakan salah satu tradisi unik di Desa Adat Tanjung Bungkak, Denpasar yang erat kaitannya dengan sejarah yang diungkap Prasasti Blanjong.

BALIEXPRESS.ID – Bali dikenal dengan berbagai tradisi unik, baik yang tercatat dalam sejarah maupun yang tidak.

Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan di Bali adalah Tradisi Magarang Nasi yang diadakan di Pura Dalem Tanjung Sari, Desa Adat Tanjung Bungkak, Denpasar Timur.

Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan dilaksanakan secara turun-temurun.

Biasanya, Magarang Nasi dilaksanakan setelah piodalan di Pura Dalem Tanjung Sari, yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia.

Puncaknya terjadi pada hari terakhir nyejer piodalan, yaitu saat panyineban.

Menurut I Ketut Sweden, seorang tokoh Desa Adat Tanjung Bungkak, Magarang Nasi dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat yang diberikan.

Nasi beserta lauk yang diperebutkan diyakini sebagai paican ida atau anugerah Tuhan untuk masyarakat.

 "Tradisi ini tidak pernah absen dilaksanakan meskipun tidak ada sumber tertulis yang menjelaskannya," katanya.

Uniknya, nasi yang digunakan dalam Magarang Nasi disajikan bersama lauk dari olahan ayam aduan yang kalah.

Sebelum Magarang Nasi dimulai, diadakan Tabuh Rah, sebuah upacara adu ayam.

Ayam yang kalah pada putaran pertama kemudian diolah menjadi lauk untuk Magarang Nasi.

Sebelum prosesi Magarang Nasi, nasi dan lauknya dihaturkan terlebih dahulu sebagai persembahan, diikuti oleh sembahyang bersama oleh masyarakat desa.

Setelah sembahyang, masyarakat menunggu waktu yang tepat untuk memulai Magarang Nasi, yang biasanya dimulai secara spontan tanpa komando.

"Biasanya ada tanda seperti suara gemuruh yang menandakan Magarang Nasi bisa dimulai," tambahnya.

Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk syukur, tetapi juga memperkuat makna kebersamaan.

Setiap orang di desa diusahakan mendapatkan bagian nasi, bahkan mereka yang tidak hadir bisa diwakilkan oleh anggota keluarga lainnya.

“Meskipun hanya sejumput nasi, itu dianggap sebagai anugerah Tuhan,” jelasnya.

Setelah Magarang Nasi selesai, sisa-sisa nasi tidak boleh dibersihkan karena dipercaya dipersembahkan kepada butha kala.

Anehnya, sisa nasi tersebut akan bersih dengan sendirinya keesokan harinya.

Tradisi Magarang Nasi erat kaitannya dengan sejarah Desa Tanjung Bungkak  yang tak bisa dipisahkan dari hubungannya dengan Sanur dan Denpasar.

Nama "Tanjung Bungkak" berasal dari kata "Semenanjung" dan "Bungkak," yang merujuk pada "Nungkak" dalam awig-awig desa, mengacu pada Prasasti Blanjong di Griya Sanur.

Nama ini bermula dari kisah perjalanan pasukan Puri Sanur yang hendak membantu penyerangan ke Puri Satria di Denpasar.

Namun, di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan utusan Puri Satria yang memberi kabar bahwa peperangan telah diatasi, sehingga penyerangan dibatalkan atau 'nungkak.'

Baca Juga: NAAS! Pengendara Motor Tertimpa Pohon di Jalan Raya Denpasar - Gilimanuk, Alami Cedera Kepala Berat

Di tempat inilah akhirnya muncul nama Tanjung Bungkak, yang berarti 'pembatalan di semenanjung.'

 

Editor : Nyoman Suarna
#nasi #sanur #blanjong #prasasti #Puri Satria #tradisi #magarang #Tanjung Bungkak