BALIEXPRESS.ID - Salah satu karya lukisan Nyoman Gunarsa yang akan dipamerkan pada Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa akan dibuka pada Senin (9/9/2024) di Museum Nyoman Gunarsa, Dusun Banda, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, adalah Jokowi Mendalang.
Lukisan ini menjadi istimewa lantaran dibuat dua minggu sebelum sang maestro berpulang. Menurut sang istri, Indrawati Gunarsa, lukisan itu terinspirasi dari upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara.
"Tanggal 17 Agustus 2027 beliau diundang mengikuti Upacara HUT RI di Istana Negara. Disana beliau terharu melihat para Presiden hadir bersama, termasuk Ibu Mega yang bisa bertemu Pak SBY kemudian bersalaman," terangnya Minggu (8/9/2024).
Selanjutnya Gunarsa pun melukis sebuah lukisan yang di dalamnya terdapat para Presiden RI yang menggunakan pakaian adat Jawa sedang memainkan alat musik dan menjadi dalang.
"Jadi Pak Jokowi menjadi Dalang, karena kan saat itu era pemerintahan pal Jokowi. Kemudian Gus Dur meniup seruling, bu Mega megambel, pak Harto (Soeharto) megambel, kemudian Pak Habibie dan Pak Karno (Soekarno) yang lincah dan energik memukul Kendang lalu pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memukul gong," paparnya.
Dalam lukisan itu juga erdapat tulisan tulisan berbunyi 'Alangkah Indahnya Indonesia Jika Presidennya Bersatu'.
"Jadi beliau terinspirasi jika para Presiden RI bersatu dan saling mendukung pasti Indonesia akan semakin indah," imbuhnya.
Sayangnya serangan jantung yang dialami Gunarsa membuat ia tak bisa melanjutnya lukisan penuh makna tersebut.
"Lukisannya belum 100 persen, masih akan ditambah aksesorisnya. Kalau sekarang kita tidak mau menambahkan ini itu biar orisinil karya beliau," sambungnya.
Kini karya tersebut siap untuk dipamerkan dalam Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa akan dibuka pada Senin (9/9/2024) di Museum Nyoman Gunarsa. Pameran ini akan berlangsung selama satu bulan kedepan atau akan ditutup pada tanggal 9 Oktober 2024.
Pameran ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang sang maestro seni rupa asal Bali, sekaligus sebagai pertanggungjawaban atas sumbangsihnya dalam dunia seni dan kebudayaan Indonesia. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana