BALIEXPRESS.ID - Penyebab kematian salah satu pentolan ormas Anak Agung Ketut Ngurah Setyawan alias Gung Balang, 38, dan istrinya Anak Agung Sri Agung, 38, sampai saat ini belum diungkap secara gamblang oleh kepolisian.
Luka tusuk yang diderita pentolan ormas Gung Balang pada dada sebelah kiri, dan istri pada leher sebelah kanan, memunculkan berbagai spekulasi soal penyebab kematian itu.
Sementara ini, mencuat dugaan penyebab meninggal Gung Balang karena bunuh diri. Tapi, juga ada kemungkinan-kemungkinan lainnya, seperti pembunuhan, atau kombinasi dari keduanya.
Sehingga, masih perlu ditelusuri melalui pemeriksaan dan penyelidikan yang menyeluruh. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), orang yang tewas karena bunuh diri mencapai 700 ribu setiap tahunnya.
Namun, khusus bunuh diri menggunakan senjata tajam hanya sekitar 1,6 persen sampai 3 persen saja dari keseluruhan jumlah tersebut.
Artinya frekuensi cara itu digunakan sangat jarang. Cedera dari metode itu juga cenderung cedera pembuluh darah pada ekstremitas anggota badan.
Sedangkan, cedera pada jantung, paru-paru, dan pembuluh darah toraks disebut lebih umum ditemukan pada kasus pembunuhan.
Jadi, kasus kematian Gung Balang dan istrinya termasuk kategori yang jarang terjadi, dan memerlukan bukti-bukti konkret untuk mengungkap kebenarannya.
Kriminolog dari Fakultas Hukum Universitas Udayana Dr. Gde Made Swardhana pun memberikan pandangannya. Dia mengatakan kasus pasangan suami istri tersebut adalah kematian yang mencurigakan.
Mengenai dugaan bunuh diri, dijelaskan bahwa hal itu bisa terjadi dengan metode apa saja. Baik itu mengakhiri hidup menggunakan tali untuk gantung diri, minum racun, memakai senjata api ataupun senjata tajam.
"Bunuh diri dengan cara ditusuk senjata tajam memang mungkin terjadi. Tentunya polisi perlu menyelidiki apakah korban memang bunuh diri atau dibunuh, yaitu melalui pemeriksaan menyeluruh termasuk forensik," ujarnya kepada Bali Express Jawa Pos Grup, Jumat (27/9).
Berdasar pengetahuan yang pernah dipelajari, kalau pasangan suami istri bunuh diri menggunakan senjata tajam, maka kesepakatan pertama adalah keduanya sama-sama membawa senjata.
Jadi, mereka sudah sepakat dalam hitungan waktu yang bersamaan, langsung menusuk dirinya pada bagian vital yang menyebabkan kematian segera. Sedangkan dalam perkara ini, senjata berupa pisau yang ditemukan di kamar pasutri itu hanya ada satu.
Jika sajam hanya satu, Dr. Swardhana menyebutkan bahwa ada kemungkinan lainnya di sana, yaitu suami terlebih dahulu membunuh istrinya, baru kemudian bunuh diri. "Sebab begini, ketika istri dibunuh dan mati, suami itu tak punya keraguan lagi untuk bunuh diri, kalau hidup kan dia sudah bunuh istri dan bisa diproses hukum," tambahnya.
Kemudian, metode mengakhiri hidup dengan senjata tajam ini, korban memang biasanya mengincar bagian sensitif atau organ vital. Dari sisi suami, bagian dada kiri ketika diraba akan terasa ada ruas-ruas pada tulangnya. Sajam itu ditikam melalui sela tulang dan berpotensi mengenai jantung.
Alhasil, terjadi pendarahan hebat dan peredaran darah dalam tubuh yang memuat oksigen terhenti. Hal itu yang menyebabkan kematian. "Kalaupun meninggal tidak secara instan, peluang korban kehilangan nyawa sangat tinggi, karena tidak ada pertolongan cepat," tandasnya.
Begitu juga dari sisi istri, pada bagian leher dekat dengan tulang selangka. Ditekan dengan tangan saja bisa terasa sakit, Apalagi ditusuk. Maka senjata akan menembus kerongkongan. Sehingga, pernafasan mengalami gangguan dan terjadi pendarahan hebat yang mengakibatkan kematian.
Lebih lanjut, posisi para korban saat ditemukan juga bisa menjadi tanda. Gung Balang dan istrinya meninggal berpelukan. Menurut pandangan Kriminolog, hal itu menandakan sudah ada kesepakatan untuk meninggal bersama.
"Meninggal berpelukan itu bisa saja menandakan sepakat cinta yang sehidup semati, jadi sepakat untuk meninggal bersama," ucapnya. Nah, variabel lain yang sangat perlu ditelusuri adalah apa motif pasangan itu, jika memang mengakhiri hidup. Apalagi waktu itu menjelang Hari Raya Galungan.
"Orang Bali kan tahu betul, kalau meninggal tidak wajar upacaranya berat, apalagi ini jelang hari raya," imbuhnya. Guru Besar Unud ini juga menyampaikan, bahwa tidak menutup kemungkinan ada dugaan pembunuhan. Karena, bisa saja korban memiliki permasalahan dengan orang lain, apapun itu bentuknya.
Pembuktiannya, kembali lagi yaitu melalui penyelidikan menyeluruh serta melalui autopsi. Proses tetsebut guna memastikan karakteristik luka, seberapa dalam luka, bagaimana bentuk perlukaan, hingga cara menusuknya, bisa digambarkan.
Antara dugaan bunuh diri dan dugaan dibunuh ini bisa dibedakan karakteristik lukanya. Apabila bunuh diri, korban akan cenderung menusuk tepat di organ yang vital sehingga menyebabkan kematian yang cepat.
Korban cenderung sudah membaca atau memahami letak organ yang memicu kematian lebih mudah. Walau ada keraguan, biasanya akan ada luka tak dalam di sekitar luka utama.
Sedangkan, kalau luka ditusuk orang lain atau pembunuhan, pelaku terkesan sembarangan dalam melakukan tusukan.
Bisa jadi pelaku kesulitan mengenai area vital yang diinginkan, karena ada peluang korban melawan. Kecuali korbannya memang tidak berdaya, bisa saja luka itu langsung mengenai titik incaran.
"Selain itu, luka yang disebabkan cenderung lebih dari satu dan luka itu dalam karena ada upaya menikam lebih dari satu dengan tujuan mengakhiri nyawa korbannya," katanya.
Oleh karena itu, proses autopsi sangatlah penting untuk dilakukan atas kasus kematian yang mencurigakan. Masyarakat yang enggan terhadap autopsi, perlu diberi pemahaman mengenai hal tersebut. (*)
Editor : I Gede Paramasutha