Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gedung Jaya Sabha, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Denpasar dan Perang Puputan Badung: Dulu Merupakan Taman Raja

Nyoman Suarna • Senin, 14 Oktober 2024 | 00:53 WIB
JAYASABHA: Jayasabha yang kini dikenal sebagai rumah jabatan Gubernur Bali merupakan saksi bisu sejarah Denpasar dan Perang Puputan Badung.
JAYASABHA: Jayasabha yang kini dikenal sebagai rumah jabatan Gubernur Bali merupakan saksi bisu sejarah Denpasar dan Perang Puputan Badung.

BALIEXPRESS.ID - Gedung Jaya Sabha yang sekarang, dikenal sebagai rumah jabatan Gubernur Bali memiliki sejarah panjang.

Sebenarnya, sejarah Jayasabha berkaitan erat dengan sejarah Denpasar, karena dahulunya Denpasar adalah sebutan untuk taman kesayangan Raja Badung, Kyai Jambe Ksatrya yang tinggal di Puri Satria.

Dilansir dari Denpasarkota.go.id yang mengutif dari  www.sejarahbali.com, Raja Badung ini sangat mencintai keindahan alam. Karena itu dia membuat taman di bawah pohon beringin di sisi utara pasar yang ada di selatan Puri Satria.

Taman ini menjadi tempat kesayangan sang raja, yang juga dikenal unik karena dilengkapi dengan arena untuk adu ayam, sebuah kegiatan yang populer di masa tersebut.

Kyai Jambe Ksatrya sendiri tinggal di Puri Jambe Ksatrya, yang kini dikenal sebagai Pasar Satria.

Karena letak taman tersebut berada di sebelah utara pasar, lalu disebut dengan Denpasar.

Nama Denpasar berasal dari dua kata, yaitu "den" yang berarti utara, dan "pasar" yang berarti pasar.

Kini, kawasan yang dulunya merupakan taman raja itu telah berubah fungsi menjadi Jayasabha, rumah jabatan Gubernur Bali.

Secara administratif, Denpasar diresmikan sebagai sebuah kota pada tahun 1788.

Kota ini didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan, yang merupakan keturunan Puri Pemecutan.

Nama Denpasar sendiri mulai digunakan saat wilayah Badung dipimpin oleh dua kerajaan besar, yaitu Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya.

Baca Juga: Tawarkan Pesona Hutan Pinus, Tempat Glamping Ini bukan di Kintamani Bali, tetapi di Trawas Mojokerto: Buruan Cek Lokasi dan Vasilitasnya

Menurut Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud, AA Bagus Wirawan, kedua puri ini menandai adanya dua pusat pemerintahan yang berbeda: Puri Alang Badung dan Puri Pemecutan.

Kedua pemerintahan ini dipimpin oleh keturunan yang sama, Kyai Jambe Pule.

Wilayah barat Tukad Badung berada di bawah kendali Puri Pemecutan, sementara wilayah timur Tukad Badung dipimpin oleh Puri Jambe Ksatrya.

Taman yang dibangun oleh Kyai Jambe Ksatrya kemudian dikenal sebagai Denpasar, meskipun pada awalnya nama ini belum mengacu pada sebuah kota tertentu.

Pada saat Perang Puputan tahun 1906, Puri Denpasar dihancurkan Belanda. Belanda kemudian menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Asisten Residen Bali Selatan dan Kontroleur Badung.

Belanda sama sekali tidak mengganggu bentuk dan penempatan barang-barang di puri tersebut, justru turut merawatnya.

Saatnya Indonesia merdeka, pemerintah memfungsikannya sebagai kantor Gubernur Bali. Ketika Kantor Gubernur dipindah ke kawasan Renon Denpasar, eks kantor Gubernur Bali kini bernama gedung Jaya Sabha, sebagai rumah jabatan gubernur Bali.

Sementara itu, pada tahun 1929, Puri Denpasar dibangun ulang oleh Cokorda Alit Ngurah, yang diangkat sebagai Regent Badung.

Namun, karena letak Puri Denpasar yang baru berada di bekas Puri Jambe Ksatrya, masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai Puri Satria, sebutan yang masih digunakan hingga kini.

Editor : Nyoman Suarna
#Puputan badung #denpasar #Jaya Sabha #sejarah #perang