BALIEXPRESS.ID - Kasus penganiayaan brutal terhadap seorang pekerja proyek asal NTT berinisial DK di Gianyar, Bali, mengungkap fakta-fakta mengejutkan yang melibatkan sepuluh pelaku, video TikTok sebagai pemicu, hingga upaya kabur seorang kerabat korban yang mengunggah video tersebut.
DK tewas usai diserang dengan benda tajam dan tumpul oleh warga yang tersulut amarah.
Polisi pun menetapkan ancaman hukuman berat bagi para pelaku yang bertanggung jawab atas kejadian tragis ini.
Baca Juga: Viral! Guru SMK di Bali Cukur Rambut Siswa, Netizen Heboh: Disiplin atau Berlebihan?Fakta-Fakta Penting Terkait Kasus Penganiayaan Pekerja Proyek di Gianyar
1. Korban Meninggal Setelah Penganiayaan Brutal
Seorang pekerja proyek berinisial DK tewas setelah mengalami penganiayaan oleh sepuluh pelaku yang menyerang dengan benda tajam dan benda tumpul.
2. Video TikTok Sebagai Pemicu Konflik
Kasus ini bermula dari sebuah video TikTok yang direkam oleh DK dan diunggah oleh kerabatnya, berinisial Y.
Video tersebut berlatar upacara adat setempat dan dianggap provokatif oleh warga Banjar Angkling, Gianyar.
3. Sepuluh Pelaku dengan Peran Berbeda
Sepuluh pelaku, yang semuanya warga setempat, memiliki peran masing-masing dalam aksi kekerasan tersebut. Beberapa pelaku memukul dengan batu, menyeret, hingga menusuk korban dengan pisau.
4. Kerabat Korban yang Mengunggah Video Kabur
Y, yang memposting video, sempat kabur dari Bali hingga ke Sumba Barat Daya setelah video yang diunggahnya menimbulkan kemarahan warga. Polisi berhasil menangkap Y di kampung halamannya.
5. Penyebab Kematian Korban
Korban meninggal akibat pendarahan hebat akibat luka benda tajam dan tumpul. Hal ini disampaikan oleh pihak RSUD Sanjiwani yang sempat menangani korban.
6. Ancaman Hukuman Berat untuk Para Pelaku
Sepuluh pelaku penganiayaan dijerat dengan Pasal 170 jo 338 KUHP, yang membawa ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Sementara, Y dijerat dengan UU ITE karena unggahan videonya yang dianggap provokatif.
7. Barang Bukti yang Diamankan
Polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk pisau, batu, dan pakaian adat yang dikenakan saat penganiayaan berlangsung.
Kasus ini mencerminkan pentingnya kehati-hatian dalam bermedia sosial, terutama terkait isu-isu yang sensitif dan menyangkut budaya setempat. ***
Editor : I Putu Suyatra