Kidung atau kekidungan merupakan kelompok sekar madya yang mempunyai hukum atau pola, bentuknya dikenal pada bait-bait permulaan yang memakai bentuk’’kawitan’’pemawak atau pendek dan penawa atau panjang.
Bentuk kekidung mempunyai aturan yang disebut pada lingsa, iramanya pelan-pelan, sastra kidung merupakan bentuk puisi yang menggunakan bahasa Jawa pertengahan. Kekidungan mempunyai sifat-sifat religius.
Seperti memuja Tuhan dengan segala manifestasinya, menggambarkan keagungan Tuhan, memohon keselamatan lewat syair-syairnya dan menyebarkan ajaran dharma lewat puisi.
Dalam ritual bhuta yadnya (caru/taur) syair-syair kekidungan memakai pupuh Jerum. Kekidungan Pupuh Jerum ini diyakini bersifat mengundang atau memanggil para aura-aura yang ada disegala arah.
Baca Juga: SERU! Beraksi 14 Kali, Penangkapan Residivis Maling Motor Mirip Aksi Film, Begini Kronologinya
Hal tersebut mengandung makna agar aura-aura yang ada disegala penjuru arah tidak membawa keburukan, dengan ritual taur dan kekidungan aura akan berubah menjadi positif
Dosen Dharma Gita STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M,Pd menjelaskan bahwa dengan menggelar ritual taur/mecaru dengan lantunan syair pupuh jerum akan terbebas dengan aura negatif
Dijelaskan Ariyoga, kekidungan pupuh jerum akan mengundang setiap arah mata angin, aura-aura jahat akan di undang dengan jumlah, dan nama yang berbeda-beda.
Sebut saja di Arah timur, Bhuta kala yang berwarna putih sering disebut Bhuta kala Petak dengan 505 (lima ratus ribu) pasukan kala yang siap datang dengan senjata genta/bajra.
Arah selatan, Bhuta kala yang berwarna merah sering disebut Bhuta Kala Bang dengan 909 (Sembilan ratus Sembilan) pasukan kala yang bersenjatakan gada.
Baca Juga: Ih…Jorok! Wastafel di Anjungan Penelokan Kintamani Mampet, Air Menggenang di Depan Toilet
Arah barat, Bhuta kala yang berwarna kuning sering disebut Bhuta Kala Kuning dengan 707 (Tujuh ratus tujuh) pasukan kala dengan senjata Nagapasa.
Arah utara, Bhuta kala yang berwarna hitam sering disebut Bhuta Kala Hireng dengan 404 (Empat ratus empat) pasukan kala dengan senjata Cakra.
Arah tengah, Bhuta kala yang berwarna manca warna yang sering disebut Bhuta Kala Brumbun dengan 808 (Delapan ratus delapan) pasukan kala dengan senjata Padma Angulayang
“Kidung pupuh jerum lantunannya bersifat mengundang bhuta kala terutama pada jenis persembahan taur/caru panca sato, pemakaiannya dengan ayam berbulu putih di arah utara. Ayam berbulu merah diarah selatan, ayam berbulu kuning diarah barat,” jelasnya.
Ayam berbulu hitam disebelah utara, sedangkan ditengah-tengah ayam berbulu kelima warna tersebut atau ayam manca warna.
Ia menambahkan, Syair pupuh jerum mengandung sifat magis dalam mengundang para roh-roh Dewa Kala yang bersifat negatif menjadi positif dengan suguhan ritual Hindu.
Lantunan bentuk syair pupuh jerum mampu membersihkan aura negatif, nyomia Bhuta Kala agar tidak mengganggu manusia, sesuai dengan lontar Kala Tattwa.
“Kekidungan ini bersifat magis, bentuk notasi pupuh jerum sangat mudah dipahami oleh masyarakat desa,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika