SINGARAJA, BALI EXPRESS — Dua pasangan calon yang bertarung dalam pemilihan Gubernur Bali, Mulia-PAS dan Koster-Giri, masing-masing memaparkan program pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Bali.
Fokusnya adalah pendidikan gratis serta pengenalan teknologi di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Namun, terdapat perbedaan pendekatan yang mencerminkan prioritas masing-masing pasangan.
Mulia-PAS menawarkan pendidikan gratis bagi siswa di SMA/SMK Negeri dan subsidi untuk siswa di sekolah swasta sesuai dengan kebutuhan biaya sekolah masing-masing.
Program beasiswa Bali Dwipa juga dijanjikan bagi mahasiswa berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,5 ke atas, serta mahasiswa dari kalangan kurang mampu. Program ini dirancang untuk mendukung generasi muda agar dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani oleh biaya.
“Dengan metode ini maka kualitas SDM di Bali memiliki daya saing. Mereka tidak akan kalah berkompetisi dengan mahasiswa di luar Bali dalam hal mencari pekerjaan nantinya. Dengan kualifikasi pendidikan yang memenuhi standar, minimal mereka saat bekerja tidak menduduki posisi rendah,” ungkap De Gadjah yang memiliki nama asli Made Muliawan Arya, Calon Gubernur Bali yang diusung KIM Plus, saat melakukan uji publik di Undiksha, Selasa (5/11) pagi.
Baca Juga: PAS Janji Tuntaskan Infrastruktur Jalan di Desa Tegalinggah Menuju Wanagiri
Soal pendidikan tersebut, De Gadjah menyebut akan membangun 2 sekolah Bali Mandara. Keberadaan sekolah itu ditujukan untuk memfasilitasi siswa kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat menengah atas.
“Kami akan bangun satu di timur yakni di Karangasem dan satu lagi di barat, wilayah kabupaten Jembrana,” kata De Gadjah.
Namun, program ini menimbulkan pertanyaan. Apakah subsidi sekolah swasta akan diberikan dengan pemerataan yang tepat? Bagaimana mekanisme penilaian bagi mahasiswa berprestasi atau yang tidak mampu untuk mendapatkan beasiswa Bali Dwipa ini?
Sistem pengawasan terhadap penerima manfaat beasiswa ini perlu diperhatikan agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berhak.
Di sisi lain, Koster-Giri juga menjanjikan pendidikan gratis bagi siswa SMA/SMK di Bali yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Untuk SMA/SMK ada 180 ribu lebih siswa di Bali. Dari jumlah itu 18 ribu diantaranya miskin. Ini yang akan kami gratiskan di seluruh Bali,” Ungkap Wayan Koster, Calon Gubernur Bali yang diusung PDIP saat mengikuti uji publik di Undiksha, Rabu (6/11) pagi.
Lebih dari itu, pasangan ini berfokus pada transformasi pendidikan tinggi dengan digitalisasi, seperti penyediaan smartboard untuk pembelajaran dan pengenalan sistem perkuliahan. Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan modern.
“Seluruh kampus wajib punya smartboard untuk pembelajaran,” tambah Nyoman Giri Prasta, calon Wakil Gubernur Bali yang mendampingi Wayan Koster.
Namun, sejumlah tantangan mungkin muncul dalam implementasi digitalisasi ini. Sistem perkuliahan online dan smartboard memerlukan infrastruktur teknologi yang baik, termasuk jaringan internet stabil dan perangkat yang memadai.
Selain itu, kesiapan tenaga pengajar dalam menggunakan teknologi untuk mengajar juga menjadi perhatian. Apakah seluruh dosen dan guru di Bali sudah dilatih dalam penggunaan perangkat digital ini? Jika tidak, program ini dapat berisiko berjalan tidak optimal dan tidak efektif.
Walaupun kedua pasangan calon ini menunjukkan keseriusan dalam mengupayakan peningkatan SDM di Bali, penting untuk mencermati implementasi kebijakan-kebijakan tersebut.
Mulia-PAS perlu menjelaskan detail tentang kriteria penerima beasiswa dan sistem subsidi sekolah swasta, sementara Koster-Giri perlu mengklarifikasi bagaimana mereka akan mengatasi keterbatasan teknologi di sekolah dan perguruan tinggi Bali.
Pemerintah provinsi harus memastikan program ini dapat berlangsung dengan efektif, merata, dan berkesinambungan. Jika tidak, janji-janji ini berisiko hanya menjadi “jualan” politik tanpa manfaat nyata bagi pendidikan di Bali. ***
Editor : Dian Suryantini