Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rencana 3E Mulia-PAS, Strategi Atasi Kemacetan Bali dengan Inovasi dan Ketegasan

Dian Suryantini • Kamis, 7 November 2024 | 02:11 WIB

Made Mulyawan Arya alias De Gadjah, calon Gubernur Bali dari KIM Plus saat memaparkan strategi penanggulangan kemacetan lalu lintas di Bali.
Made Mulyawan Arya alias De Gadjah, calon Gubernur Bali dari KIM Plus saat memaparkan strategi penanggulangan kemacetan lalu lintas di Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, Made Muliawan Arya dan Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS), mengusung konsep “3E” sebagai strategi utama untuk mengatasi masalah kemacetan yang semakin kompleks di Bali.

Pendekatan ini meliputi Traffic Engineering, Traffic Education, dan Traffic Enforcement, yang disusun untuk memberikan solusi komprehensif pada permasalahan transportasi yang kian mendesak di Pulau Dewata.

Traffic Engineering difokuskan pada peningkatan infrastruktur dan aksesibilitas. Mulia-PAS berencana untuk mengimplementasikan pembangunan jalan tol, jalan layang, underpass, serta menyiapkan sistem transportasi massal seperti MRT dan fasilitas “park and ride.”

Selain itu, jalur udara seperti pengembangan bandara juga masuk dalam program ini. Langkah-langkah ini dirancang untuk memperlancar arus kendaraan di Bali yang kian padat, terutama pada musim pariwisata, sehingga mengurangi kemacetan yang sering kali terjadi di titik-titik wisata utama.

“Rencana ini menuntut perencanaan matang dan investasi besar, yang tentunya harus diselaraskan dengan tata kelola lingkungan dan penataan ruang yang berkelanjutan,” papar Made Muliawan Arya alias De Gadjah, Selasa (5/11) pagi.

Baca Juga: Transformasi Digital ala Mulia-PAS dan Koster-Giri, Ambisi atau Realita?

Pentingnya kesadaran berlalu lintas juga diakui oleh Mulia-PAS sebagai salah satu faktor kunci. Traffic Education, yang menjadi pilar kedua dalam rencana 3E ini, bertujuan membangun budaya tertib berlalu lintas di kalangan masyarakat dan wisatawan.

Sosialisasi masif akan dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan dan kesadaran akan aturan lalu lintas, sehingga dapat mendorong perilaku berkendara yang lebih aman dan mengurangi beban kemacetan.

“Meski demikian, tantangan edukasi berlalu lintas di Bali tidak hanya berhenti pada penyebaran informasi, tetapi juga pada upaya membentuk budaya berlalu lintas yang lebih disiplin, terutama bagi wisatawan yang terkadang kurang paham dengan kondisi jalan di Bali,” imbuhnya.

Mulia-PAS menyadari bahwa peraturan saja tidak cukup tanpa penegakan hukum yang tegas. Oleh karena itu, Traffic Enforcement difokuskan pada pemberian sanksi tegas tanpa pandang bulu bagi siapa saja yang melanggar aturan lalu lintas, baik masyarakat lokal maupun wisatawan.

Penegakan hukum yang konsisten ini diharapkan dapat menimbulkan efek jera, sehingga pengguna jalan berpikir dua kali sebelum melanggar aturan.

Baca Juga: Pendidikan Gratis dan Teknologi untuk Bali: Janji Mulia-PAS vs Koster-Giri

“Ketegasan dalam memberikan sanksi ini merupakan langkah preventif yang sangat dibutuhkan untuk membangun ketertiban di jalan raya dan mengurangi angka kecelakaan,” lata De Gadjah.

Rencana 3E dari Mulia-PAS menawarkan pandangan baru dalam mengatasi kemacetan Bali yang kompleks, terutama dengan menggabungkan pembangunan infrastruktur, pendidikan masyarakat, dan penegakan hukum yang berimbang.

Jika berhasil diterapkan, program ini bisa menjadi model transportasi modern yang mengedepankan efektivitas, edukasi, dan penegakan hukum—ketiga elemen yang sangat dibutuhkan untuk mengurai kemacetan Bali secara sistematis dan berkelanjutan. ***

 

Editor : Dian Suryantini
#bali #kemacetan #De Gadjah #pas