Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cukup Tinggi, 750 Hektar Subak Pertahun Alami Alih Fungsi Lahan, Tahun 2050 Diprediksi Mengkhawatirkan

Rika Riyanti • Senin, 11 November 2024 | 22:14 WIB

 

Pemandangan Desa Jatiluwih.
Pemandangan Desa Jatiluwih.

 

 

BALIEXPRESS.ID - Subak, sistem irigasi tradisional Bali yang telah menjadi salah satu warisan budaya dunia, saat ini menghadapi tantangan serius akibat alih fungsi lahan.

Menurut Ketua Unit Subak Bidang Sosial Ekonomi Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. I Ketut Suamba, MP, perubahan fungsi lahan ini terutama berdampak pada subak sawah yang jumlahnya berkurang secara signifikan.

"Total subak sawah di Bali mencapai 1.596 subak, namun secara keseluruhan, termasuk subak abian yang berada di lahan kering, jumlahnya lebih dari 3.000. Tantangan terbesar justru dialami oleh subak sawah, terutama di wilayah perkotaan seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar, yang banyak mengalami alih fungsi untuk perumahan dan sektor pariwisata," jelas Prof. Suamba saat diwawancara disela-sela Temu Budaya Subak sebagai rangkaian Subak Spirit Festival di Universitas Udayana, Senin (11/11).

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Jukir di Taman Pancing Coba Mengelak, Dua Sosok Ini Turun Tangan, Hasilnya?

Salah satu solusi yang disarankan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan lahan pertanian dan perumahan adalah melalui kebijakan LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan).

"LP2B adalah analisis untuk menyesuaikan antara permintaan beras dengan ketersediaan lahan. Dari kajian ini, lahirlah konsep LSD atau Lahan Sawah Dilestarikan yang memastikan beberapa kawasan, seperti di Gianyar, tetap sebagai area sawah dan tidak boleh dialihfungsikan," paparnya.

Meskipun secara umum Bali masih mampu menjaga keseimbangan antara lahan pertanian dan hunian, namun Prof. Suamba mengingatkan bahwa pada beberapa kabupaten sudah menunjukkan defisit.

Baca Juga: Didakwa Lakukan Kekerasan terhadap Murid, Guru Supriyani Dituntut Bebas: Ini Pertimbangan Jaksa Penuntut Umum saat Sidang

"Saat ini masih seimbang untuk keseluruhan wilayah Bali, namun per kabupaten ada yang sudah minus. Contohnya Tabanan dan Gianyar masih plus, tapi jika pertumbuhan penduduk dan penurunan lahan terus berlanjut, pada 2050 sudah dikhawatirkan, sangat mengkhawatirkan. Tahun 2030 sudah seimbang,” tambahnya.

Terkait ancaman UNESCO yang berencana mencabut status Subak Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia karena adanya bangunan restoran dan kafe di tengah kawasan persawahan, Prof. Suamba berharap adanya kebijakan tegas dari pemerintah daerah.

"Saat itu, pada acara WWF ada bangunan yang dibangun di areal persawahan dan itu memang harus dibongkar. Pemerintah perlu membuat aturan tegas agar tidak ada lagi pembangunan bangunan di areal persawahan," tegasnya.

Prof. Suamba juga menyarankan pengembangan homestay sebagai alternatif agar masyarakat tetap dapat merasakan manfaat pariwisata tanpa harus merusak area persawahan.

"Kita dari akademisi tidak bisa melakukan pembongkaran, namun arah kebijakannya harus jelas agar tidak terjadi perluasan pembangunan, dan masyarakat tetap mendapatkan manfaat dari pelestarian warisan budaya ini," lanjutnya.

Dalam hal alih fungsi lahan, Prof. Suamba menyebutkan bahwa sejak tahun 1990 hingga 2000-an, rata-rata 750 hektar lahan sawah di Bali beralih fungsi setiap tahunnya.

Baca Juga: Pemkab Klungkung Siapkan Dapur Sehat Dukung Program Makan Bergizi Gratis

"Cukup tinggi," tandasnya.

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan melaksanakan Temu Budaya Subak, yang masih menjadi rangakaian Subak Spirit Festival yang dilaksanakan mulai tanggal 9 November 2024.

Inskripsi Warisan Dunia UNESCO untuk Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (2012) merupakan pengakuan internasional untuk Sistem Subak sebagai warisan adiluhung Leluhur Bali dalam membangun ekosistem Pulau Bali dan mengelola sumber air untuk mengolah tanah bagi pertanian padi.

Baca Juga: Keroyok Pria di Bali Sampai Tewas Melompat, Geng Motor Pelajar Upaya Damai dengan Pihak Korban

Warisan budaya dunia ini tersusun sebagai serial lima lokasi situs, yaitu Pura Ulun Danu, Danau Batur, Lanskap Subak DAS Pakerisan, Lanskap Subak Caturangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun.

Interaksi Manusia dan Lingkungan di Pulau Bali ini diwakili oleh lima lokasi situs tersebut melalui kombinasi lanskap sawah terasering, aliran irigasi bersama bendungan dan terowongan yang dikombinasikan dengan danau dan sungai serta mata air sebagai sumber pasokan air, hutan yang menyediakan air, pura, pura air, tempat suci, dan desa, bersama dengan proses tradisional sistem subak yang terkait dengan prinsip filosofis Tri Hita Karana yang memberikan respon sosial dan ekologis yang berkelanjutan. 

Penguatan Ekosistem Kebudayaan ini merencanakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung implementasi Rencana Pengelolaan termasuk penegasan rencana aksi dalam pemanfaatan dan pelestariannya melalui beragam aktivitas, salah satunya adalah Temu Budaya Subak.

Baca Juga: Warga Badung dan Pecinta Voli!! Mangupura Cup 2024 Digelar di GOR Mengwi, Libatkan 37 Tim Desa/Kelurahan se-Badung; Catat Jadwalnya!

Temu Budaya Subak menjadi ajang presentasi keberhasilan pertanian di Bali dan dialog oleh para pemangku kepentingan dalam merespon isu-isu subak, khususnya para praktisi pertanian (kegiatan dan capaian di bidang pertanian), praktisi pariwisata dan agrowisata (peran subak dalam pariwisata), dan akademisi (penjelasan kuantitatif terkait potensi pertanian bagi pariwisata). 

Tujuan dari temu budaya Subak ini ialah pertama, mengaktivasi ekosistem kebudayaan dari Sistem Subak, Pertanian Tradisional, dan Warisan Budaya berikut OPK dari serial lima lokasi situs warisan budaya dunia yaitu Pura Ulun Danu, Danau Batur, Lanskap Subak DAS Pakerisan, Lanskap Subak Caturangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun.

Kedua, memetakan praktik-praktik baik konservasi alam dan sumber air, safeguarding Sistem Subak, preservasi pertanian tradisional yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dan pelindungan warisan budaya berikut pemajuan kebudayaan.

Ketiga, memetakan potensi pengelolaan air, pertanian, kebudayaan, dan pariwisata di Bali.

Keempat, menetapkan peta jalan Subak Spirit dalam lima tahun ke depan.

Baca Juga: Polemik Video Guru Cukur Rambut di Sekolah Dewan Pendidikan Nilai Sebagai Penegakan Disiplin, Siswa Diminta Bijak Gunakan HP

Hadir beberapa tokoh sebagai narasumber diantaranya Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (PHRI Bali), Gede Sedana, Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Bali, Moe Chiba (UNESCO), I Made Sarjana, Ketua Lab. Subak dan Agrowisata, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana serta AA Gede Agung Wedhatama (Petani Muda Keren).(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #pariwisata #Jatiluwih #unesco #Subak