Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

'Kosa Bangsa' Bangkitkan Potensi Wisata dan Ekonomi Desa Pacung dengan Pelestarian Budaya dan Alam

Dian Suryantini • Kamis, 14 November 2024 | 01:54 WIB
Kegiatan konservasi terumbu karang yang dilakukan di perairan desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng saat pelaksanaan P2M STKIP Agama Hindu Singaraja.
Kegiatan konservasi terumbu karang yang dilakukan di perairan desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng saat pelaksanaan P2M STKIP Agama Hindu Singaraja.

BALIEXPRESS.ID - Desa Pacung, Kabupaten Buleleng, kini menjadi sorotan sebagai desa wisata yang berhasil memanfaatkan potensi lokalnya melalui program “Kosa Bangsa.”

Program ini tidak hanya membawa dampak positif pada sektor pariwisata dan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan.

Program Kosa Bangsa ini dilaksanakan dalam rangka Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Agama Hindu Singaraja, yang berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja sebagai Perguruan Tinggi Pendamping, Rabu (13/11/2024).

Program Kosa Bangsa ini merupakan kegiatan yang pendanaannya bersumber dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan TInggi Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Dalam program “Kosa Bangsa” yang didukung penuh oleh pemerintah desa dan masyarakat setempat, terdapat tiga agenda utama yang saling melengkapi. Pertama, Wisata Spiritual di Ponjok Batu yang berlokasi di area Pura Ponjok Batu. Tempat ini bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi pusat spiritualitas yang menenangkan bagi pengunjung lokal maupun wisatawan yang ingin mendalami budaya dan spiritualitas Bali.

“Wisata spiritual ini menjadi upaya strategis dalam menarik lebih banyak wisatawan ke Desa Pacung serta memperkenalkan keindahan budaya Bali yang sarat makna,” ungkap Kepala Desa Pacung, Gede Kardiana.

Agenda kedua adalah upaya konservasi terumbu karang di pesisir Desa Pacung. Program ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem laut melalui kegiatan transplantasi dan penanaman terumbu karang yang melibatkan masyarakat dan para relawan. Konservasi ini dinilai penting mengingat Desa Pacung memiliki potensi besar dalam wisata bahari berbasis lingkungan.

Dengan adanya terumbu karang yang sehat, populasi ikan dan biota laut diharapkan meningkat, memberikan dampak positif pada mata pencaharian nelayan lokal. Hal ini menunjukkan keseriusan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan laut yang kerap terancam akibat eksploitasi.

Ketiga, program pelatihan produksi arak khas Desa Pacung. Produksi minuman tradisional ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Pelatihan yang diberikan menitikberatkan pada teknik produksi yang aman dan higienis, sehingga Arak Pacung dapat memiliki daya saing di pasar lokal maupun nasional.

Melalui produk arak yang berkualitas, masyarakat diharapkan dapat memperkenalkan Desa Pacung sebagai sentra produk unggulan Bali, dengan tetap menjaga kearifan lokal dalam proses produksinya.

“Meskipun demikian, beberapa tantangan perlu diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan program ini. Tingkat keterlibatan masyarakat dalam setiap agenda perlu terus didorong agar seluruh elemen masyarakat merasakan manfaat yang setara,” tambahnya.

Selain itu, keberlanjutan program konservasi juga menuntut pemantauan rutin serta kolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan ekosistem laut tetap terjaga dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, program “Kosa Bangsa” di Desa Pacung ini telah menunjukkan hasil yang positif, tidak hanya dari sisi pengembangan ekonomi desa tetapi juga dalam hal melestarikan budaya dan lingkungan. Dengan komitmen yang kuat antara masyarakat dan pemerintah, Desa Pacung diharapkan semakin dikenal sebagai desa wisata yang kaya akan nilai budaya dan keindahan alam, yang mampu menjadi contoh bagi desa-desa lainnya dalam menggali potensi lokal secara berkelanjutan. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#konservasi #desa wisata #potensi #arak #buleleng