SINGARAJA, BALI EXPRESS - Salah satu langkah pelestarian budaya Bali adalah repatriasi warisan budaya, seperti naskah kuno dan artefak yang saat ini berada di luar negeri. Sayangnya, proses ini terkendala oleh regulasi yang rumit dan panjang. Jika pemerintah daerah, seperti Bali, memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai, seperti pusat arsip dan museum, proses pemulangan ini dapat dipercepat.
“Namun, langkah ini memerlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan dari masyarakat. Selain itu, regulasi yang terlalu birokratis perlu disederhanakan untuk memungkinkan langkah-langkah pelestarian ini berjalan lebih efektif,” kata Calon Gubernur Bali Nomor Urut 2, Wayan Koster di hadapan ratusan pasang mata Gen Z, di Singaraja, belum lama ini.
Upaya perlindungan terhadap koleksi manuskrip dan artefak di museum menjadi isu krusial setelah insiden kebakaran yang melanda salah satu museum di Indonesia beberapa waktu lalu. Insiden tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian fisik berupa artefak yang terbakar, tetapi juga kehilangan nilai sejarah yang tak tergantikan.
Museum Lontar, Gedong Kirtya di Singaraja, Pusdok Bali dan Museum Pustaka Lontar di Desa Adat Dukuh, Penaban, Karangasem, sebagai salah satu museum yang menyimpan koleksi manuskrip tradisional Bali. Namun, keberadaannya saat ini masih belum didukung oleh pengamanan yang memadai untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kebakaran atau kemalingan.
Atas hal itu, Wayan Koster pun akan menyiapkan sistem keamanan yang lebih memadai, jika ia terpilih dalam Pilkada Serentak 2024. Langkah ini dilakukan demi memastikan perlindungan maksimal bagi naskah-naskah yang tersimpan di dalamnya, termasuk koleksi yang berasal dari luar negeri yang direncanakan akan dipulangkan kembali.
“Ini menjadi masukan bagi kami, sebagai langkah pelestarian dengan cara yang modern. Naskah koleksi di museum memang harus mendapat perlindungan ekstra, karena itu punya nilai sejarah buaya yang dapat menopang keberadaan Bali,” ungkap Koster.
Menurut Koster, rencana ini akan melibatkan instalasi sistem keamanan modern, seperti sensor kebakaran berbasis deteksi asap tingkat tinggi, sistem pemantauan CCTV 24 jam, hingga pengendalian suhu dan kelembapan ruangan untuk memastikan kondisi optimal bagi pelestarian naskah.
“Kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Insiden kebakaran menjadi pengingat bahwa keamanan koleksi harus menjadi prioritas utama. Setiap naskah adalah warisan yang sangat berharga,” ujar Koster.
Langkah ini diharapkan tidak hanya memberikan rasa aman bagi koleksi manuskrip dari masa lampau, tetapi juga memperkuat kepercayaan internasional ketika koleksi dari luar negeri dipulangkan. Dengan perlindungan yang memadai, naskah-naskah tersebut dapat tetap terjaga dalam kondisi terbaik untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
"Tidak hanya itu. Untuk di Gedong Kirtya, Singaraja, nanti tempatnya juga akan ditata ulang. Supaya bagus dan orang senang datang kesana," ungkap Koster.
Inisiatif ini mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk komunitas pemerhati budaya dan sejarah. Mereka berharap keamanan Museum Lontar di Bali ini menjadi contoh bagi museum-museum lainnya di Indonesia untuk terus meningkatkan standar keamanan dan pelestarian koleksi mereka. ***
Editor : Dian Suryantini