BALIEXPRESS.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian seni dan budaya Bali.
Tahun 2025 mendatang, Pemkot Denpasar akan menaikkan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) untuk Sekaa Teruna-Teruni (STT) dari Rp10 juta menjadi Rp20 juta per kelompok.
Dukungan untuk Pilar Pelestarian Budaya
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, menegaskan bahwa banjar adat, desa adat, dan STT merupakan pilar utama pelestarian seni dan budaya di Bali, khususnya di Denpasar.
"Dana BKK ini diharapkan dapat mendukung implementasi Tri Hita Karana yang meliputi Palemahan, Parahyangan, dan Pawongan," ujar Raka pada Minggu (10/12).
BKK yang diberikan bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk pengembangan kreativitas STT dan pelestarian seni budaya.
Misalnya, di wilayah tertentu seperti Renon, dana tersebut dapat dialokasikan untuk kegiatan budaya lainnya jika tidak digunakan untuk pembuatan ogoh-ogoh.
Peningkatan Anggaran dan Prosedur Pencairan
BKK untuk STT di Denpasar telah mengalami peningkatan signifikan sejak pertama kali disalurkan.
Mulai dari Rp3,5 juta, naik menjadi Rp10 juta pada 2024, dan akan menjadi Rp20 juta pada 2025.
Peningkatan ini didorong oleh membaiknya perekonomian serta Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Denpasar.
Tercatat, sebanyak 375 Sekaa Teruna di Denpasar akan menerima dana BKK. Untuk mendapatkannya, setiap STT wajib mengajukan proposal lengkap dengan rincian penggunaan anggaran.
Proposal tersebut harus diserahkan ke desa adat masing-masing, dan pencairan dana dilakukan melalui pemerintah desa.
"Dengan pengesahan APBD 2025, kami harap awal Maret sudah bisa dilakukan pencairan dana BKK untuk Sekaa Teruna," tambahnya.
Meningkatkan Kreativitas Yowana dan Melestarikan Budaya
Melalui program BKK, Pemkot Denpasar berharap dapat memicu kreativitas para yowana di setiap banjar.
Diharapkan, inovasi-inovasi baru dalam bidang seni dan budaya dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kami ingin pelestarian seni budaya yang telah tumbuh di masyarakat Denpasar tetap terjaga. Dengan dana stimulus ini, Sekaa Teruna dan banjar adat dapat terus berkreasi dan berinovasi," ungkap Raka.
Dukungan berupa BKK ini menjadi bukti nyata upaya Pemkot Denpasar dalam melindungi sekaligus memajukan kekayaan seni dan budaya lokal.
Apakah kebijakan ini akan berdampak besar pada perkembangan budaya Denpasar? Kita tunggu bersama realisasinya di 2025! ***
Editor : I Putu Suyatra