BALIEXPRESS.ID- Serbuan lalat di Kecamatan Kintamani yang hingga kini belum tertangani mendapat perhatian dari anggota DPRD Bangli I Wayan Sutama.
Ia mendorong Pemkab Bangli untuk lebih serius dalam upaya penanggulangan masalah ini.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya persoalan kesehatan di masyarakat.
Sutama menjelaskan bahwa masalah lalat sebenarnya bukanlah hal baru di Kecamatan Kintamani.
Politikus Partai Golkar ini menyebutkan bahwa warga setempat sudah memahami pola peningkatan populasi lalat.
Hal tersebut biasanya terjadi saat musim pemupukan lahan pertanian menggunakan pupuk kandang bertepatan dengan musim hujan.
“Kalau sudah musim hujan, otomatis pupuk itu menimbulkan lalat,” kata politikus asal Desa Kintamani pada Selasa (10/12/2024).
“Saya sendiri di rumah banyak alat sekarang,” tambah Sutama.
Sutama meminta dinas terkait, seperti Dinas Pertanian, untuk segera turun tangan menangani masalah ini.
Jika pola pemupukan lahan pertanian terbukti menjadi penyebab munculnya lalat, ia berharap dilakukan sosialisasi secara masif mengenai tata cara pemupukan yang baik.
Sosialisasi tersebut harus mencakup metode yang mendukung produktivitas lahan sekaligus aman bagi kesehatan masyarakat.
“Harus ada solusi terbaik biar masyarakat tidak terbebani dengan lalat ini,” tegas Sutama.
Sutama mengakui bahwa sejauh ini persoalan lalat di Kintamani memang tidak terlalu signifikan memicu masalah kesehatan.
Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap perlu melakukan upaya penanggulangan secara serius.
“Mungkin masyarakat Kintamani menganggap lalat ini biasa saja, tapi tamu atau orang luar yang datang akan risih dan jijik, apalagi hinggap di makanan. Itu perlu diperhatikan dinas,” tandas Sutama.
Sebelumnya, seorang pengguna media sosial (medsos) melalui Facebook Pengaduan 24 Jam Bangli Era Baru yang dikelola Pemkab Bangli, mengeluhkan meningkatnya populasi lalat yang terjadi seiring dengan peralihan musim kemarau ke musim hujan.
Ia menduga keberadaan lalat tersebut menjadi penyebab anaknya menderita muntaber yang sudah terjadi dua kali dalam sebulan.
Pengguna medsos tersebut berharap masalah lalat ini dapat segera diatasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Wayan Sarma mengungkapkan permasalahan kerumunan lalat ini tidak hanya terjadi di Kintamani.
Masalah ini dialami di daerah-daerah yang masyarakat petani menggunakan limbah ternak sebagai pupuk.
Terkait lalat di Kintamani, Dinas Pertanian telah sering melakukan sosialisasi ke desa-desa, bahkan mengadakan bimbingan teknis mengenai pengolahan limbah ternak menjadi pupuk melalui proses fermentasi.
“Namun belum bisa dilakukan sepenuhnya oleh petani karena memang butuh waktu, tempat dan biaya,” kata Sarma. (*)
Editor : I Made Mertawan