Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Serbuan Lalat di Kintamani Berdampak terhadap Pariwisata, Wisatawan Batal Makan Siang

I Made Mertawan • Sabtu, 21 Desember 2024 | 16:15 WIB
Lalat megerubuti sepeda motor di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Lalat megerubuti sepeda motor di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID- Serbuan lalat di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali mendapat keluhan dari berbagai pihak.

Selain dikhawatirkan memicu penyakit, keberadaan lalat ini juga berdampak negatif terhadap pariwisata Kintamani yang tengah berkembang pesat. 

Oleh karena pemerintah diharapkan memberikan perhatian serius terhadap lalat di Kintamani.

I Ketut Putranata, salah satu pelaku pariwisata di Kintamani, menyatakan bahwa serbuan lalat berdampak buruk pada sektor pariwisata.

Keberadaan lalat mengganggu kenyamanan wisatawan. Putranata mengungkapkan, rombongan wisatawan sempat membatalkan makan siang di restorannya akibat banyaknya lalat.

“Itu terjadi sekitar tiga hari lalu,” kata Putranata pada Jumat (20/12/2024).

Ia menjelaskan, rombongan wisatawan yang berjumlah sekitar 20 orang sebelumnya telah sarapan di restorannya.

Namun, karena merasa terganggu oleh banyaknya lalat saat sarapan, mereka memutuskan untuk membatalkan makan siang di tempat yang sama.

“Paginya itu mereka sarapan, banyak lalat,” tegas pemilik Lakeview Hotel and Restaurant ini.

Putranata juga mengatakan keberadaan lalat membuat wisatawan membatalkan rencana menginap di hotelnya.

Dua orang wisatawan awalnya berniat menginap di hotel lain di Kintamani, tetapi karena banyaknya lalat, mereka memutuskan pindah ke Lakeview.

Sayangnya, kondisi di sana juga sama, sehingga mereka akhirnya membatalkan check-in. "Akhirnya batal check-in," jelas Putranata.

Putranata pun mengaku kewalahan menghadapi masalah serbuan lalat ini.

Ia berusaha menjelaskan kepada wisatawan bahwa keberadaan lalat tersebut disebabkan oleh pemupukan yang dilakukan para petani, bukan karena sampah.

Meski demikian, banyak wisatawan tetap merasa jijik dengan kondisi tersebut.

Lalat hinggap di mana-mana, bahkan sering kali mengganggu wisatawan, terutama saat berada di luar ruangan.

Putranata beberapa kali mengarahkan wisatawan untuk makan di dalam ruangan karena sulit menghalau serbuan lalat.

Padahal, makan di luar ruangan saat cuaca cerah adalah pengalaman yang tak terlupakan.

Wisatawan dapat menikmati hidangan sambil merasakan sejuknya udara Kintamani dengan pemandangan indah Gunung Batur dan Danau Batur.

“Setelah makan baru di indoor, baru keluar, tetap saja lalat hinggap di wajah, di tangan, di mata wisatawan,” tuturnya.

Terkait persoalan ini, ia berharap adanya langkah nyata dari pemerintah.

Putranata menegaskan bahwa masalah lalat telah menjadi isu serius bagi para pelaku pariwisata yang tergabung dalam PHRI Bangli.

Penanganan serbuan lalat tidak bisa dilakukan secara individu, terutama karena sumbernya berasal dari pola pemupukan yang dilakukan para petani.

Oleh karena itu, pemerintah perlu berperan sebagai motor penggerak dalam mencari solusi.  

“Penanganannya harus dilakukan secara kolektif,” sarannya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam menangani masalah ini, semua pihak harus dilibatkan tanpa ada yang dirugikan.

Jika pemupukan yang dilakukan petani menjadi pemicunya, maka penanganan harus difokuskan pada hal tersebut tanpa merugikan para petani.

“Biar sama-sama jalan. Jangan sampai berpihak di pariwisata saja,” tandasnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Kintamani #bangli #Serbuan lalat