Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lahan di Tanah Lot Milik Hary Tanoe Senilai Rp5,5 Triliun Diakuisisi untuk Proyek MRT Bali

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 26 Desember 2024 | 19:56 WIB
Kawasan MNC Land di Tanah Lot, Tabanan, Bali.
Kawasan MNC Land di Tanah Lot, Tabanan, Bali.

BALIEXPRESS.ID – Aset tanah di kawasan Tanah Lot, Tabanan, yang dimiliki oleh pengusaha Hary Tanoesoedibjo melalui PT MNC Land Tbk (KPIG), resmi diakuisisi oleh PT Bumi Indah Prima (BIP).

Lahan ini akan digunakan untuk pembangunan kawasan Transit Oriented Development (TOD) sebagai bagian dari proyek besar Bali Urban Rail dan Associated Development (Bali Subway).

Akuisisi tanah senilai Rp 5,5 triliun tersebut ditargetkan rampung pada 5 Januari 2025. PT BIP, yang merupakan investor utama proyek Bali Subway, bekerja sama dengan PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) untuk merealisasikan megaproyek transportasi berbasis kereta ini dengan nilai investasi mencapai 20 miliar dolar AS.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, IGW Samsi Gunarta, menyebut bahwa kawasan TOD di Tanah Lot dirancang lebih besar dibandingkan TOD di Sentral Parkir, Kuta. Luas kawasan tersebut diperkirakan mencapai 50 hektare dan dirancang menjadi area terpadu yang mencakup perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, hingga tempat rekreasi.

“TOD memungkinkan mobilitas masyarakat lebih efisien. Orang tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi karena semua fasilitas tersedia dalam satu kawasan dan terkoneksi dengan transportasi massal seperti kereta atau bus,” jelas Samsi, Selasa (24/12/2024).

Ia juga menambahkan bahwa jalur kereta menuju Tanah Lot akan menjadi perpanjangan dari rute Cemagi dan Canggu, dengan kemungkinan pengembangan lebih jauh ke wilayah Tabanan. Pembangunan tahap pertama ini ditargetkan selesai pada tahun 2028.

Samsi mengapresiasi rencana perluasan jalur kereta hingga Tanah Lot yang dinilai akan mendorong pengembangan kawasan berbasis transit. Dengan TOD, masyarakat akan lebih terpusat di satu area, sehingga pelayanan publik seperti listrik, air bersih, dan internet dapat dikelola lebih efisien.

“Kawasan TOD memungkinkan layanan infrastruktur untuk masyarakat dalam jumlah besar menjadi lebih hemat dan efektif,” ujarnya.


Bali Urban Rail atau Bali Subway dirancang sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang semakin parah di Bali. Proyek ini melibatkan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang dirancang tidak hanya sebagai transportasi, tetapi juga untuk meningkatkan daya tarik pariwisata dan perekonomian lokal.

Aset tanah di Tanah Lot nantinya akan dimanfaatkan untuk menciptakan kawasan transit modern yang menggabungkan transportasi massal dengan pengembangan kawasan terpadu. Hal ini sejalan dengan visi Bali menjadi daerah dengan infrastruktur transportasi urban berkelas dunia.

 

Dengan langkah strategis ini, pemerintah dan investor berharap pembangunan Bali Subway dapat memberikan dampak positif jangka panjang, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#mrt #Diakuisisi #lahan #tanah lot #mnc land #hary tanoe #transit