BALIEXPRESS.ID - Burhan Sugiarto, seorang mantan pemandu wisata di Gianyar Bali kini mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan bayi-bayi yang ditelantarkan.
Burhan, 47 tahun, mendirikan Bali Baby Home, sebuah tempat perlindungan bagi bayi-bayi yang ditemukan di hutan, apartemen sewa, bahkan di jalan tol.
“Saya ingin melindungi hak-hak anak dan ibu. Setiap anak layak mendapat kesempatan hidup dan kembali kepada keluarga mereka,” ujar Burhan.
Burhan dulunya seorang tour guide yang fasih berbahasa Prancis. Dia kerap membawa wisatawan menjelajahi keindahan Bali.
Namun, hidupnya berubah pada 2019 ketika ia memutuskan untuk meninggalkan profesinya dan mengikuti panggilan hati, yaitu membantu bayi-bayi tak diinginkan dan mendukung para ibu yang terpinggirkan.
Pandemi Covid-19 sempat memperlambat langkahnya, tetapi pada Februari 2022, Burhan menyambut bayi pertama di Bali Baby Home.
Sejak itu, ia dan timnya telah menyelamatkan puluhan bayi dari berbagai tempat berbahaya.
“Kami pernah menerima laporan seorang ibu yang berniat meninggalkan bayinya di jalan tol. Dalam waktu 30 menit, kami berhasil menyelamatkan bayi itu dan membantu sang ibu yang sangat tertekan,” kenang Burhan.
Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 2023 tercatat 192 kasus bayi yang dibuang, dengan angka sesungguhnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Tragisnya, 80 persen dari bayi-bayi itu ditemukan sudah tidak bernyawa.
Melalui Bali Baby Home, Burhan berupaya menekan angka tersebut. Panti asuhannya kini merawat sekitar 30 bayi di bawah usia tiga tahun dan telah membantu lebih dari 100 bayi sejak pertama kali berdiri.
Selain menyelamatkan bayi, Burhan juga menyediakan dukungan bagi perempuan yang menghadapi kehamilan tidak diinginkan. Banyak dari mereka mengalami penolakan keluarga atau tekanan sosial.
“Kami ingin ibu dan anak bisa bersatu kembali, tetapi kadang keluarga menolak menerima bayi itu. Mereka merasa malu,” ujar Burhan.
Bali Baby Home juga menjadi tempat para relawan internasional berkontribusi. Salah satunya adalah Maria Costa, seorang psikolog asal Argentina, yang merasa terinspirasi oleh senyuman bayi-bayi di panti tersebut.
“Awalnya, saya berencana membiayai panti ini sendiri, tetapi setelah menyelamatkan 10 bayi, saya sadar itu mustahil. Berkat donasi dan kunjungan masyarakat, kami bisa terus beroperasi,” kata Burhan.
Meskipun sudah meraih Penghargaan KPAI pada 2023, Burhan mengaku masih memiliki impian besar. Ia ingin membuka panti serupa di berbagai provinsi Indonesia untuk menangani kasus pembuangan bayi yang masih tinggi.
“Impian saya adalah suatu hari tidak ada lagi bayi yang dibuang, sehingga Bali Baby Home tidak lagi diperlukan,” ujar Burhan.
Bagi Burhan, bayi-bayi yang ia rawat adalah hadiah dari Tuhan. “Mereka mungkin dianggap tidak diinginkan, tetapi bagi saya, mereka adalah berkat. Ini adalah cara saya membalas kebaikan hidup dan membangun masa depan yang lebih baik.” (*)
Editor : Nyoman Suarna