Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakralnya Tari Janger Maborbor di Bali: Atraksi Api, Trance, dan Pesan dari Alam Gaib di Bangli

I Putu Suyatra • Jumat, 17 Januari 2025 | 14:39 WIB
Janger Maborbor di Desa Pakraman Metra, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, Bangli, Bali.
Janger Maborbor di Desa Pakraman Metra, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Masyarakat Bali mengenal Janger sebagai tari pergaulan yang menghibur. Namun, di Desa Pakraman Metra, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, Bangli, Tari Janger menghadirkan daya tarik berbeda.

Tari ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga melibatkan kekuatan niskala, atau dimensi gaib, yang menciptakan keunikan tersendiri.

Asal-usul dan Keunikan Tari Janger Maborbor

Tari Janger Maborbor, yang berarti "Janger yang membakar," bukanlah tari Janger biasa.

Penarinya akan menampilkan atraksi menantang maut dengan berjalan di atas bara api dari serabut kelapa.

Lebih dari itu, gerakan tarian ini dipercaya berasal dari petunjuk alam gaib melalui proses trance atau kesurupan.

Menurut Tokoh Banjar Bukti, Made Widana, tarian ini lahir saat wabah mematikan menyerang Desa Pakraman Metra di masa kolonial Belanda.

Wabah tersebut tak hanya merenggut nyawa warga, tetapi juga melumpuhkan pertanian.

Dalam upaya mencari solusi, para tetua desa memohon petunjuk di Pura Dukuh Banjar Bukti, hingga salah satu warga mengalami trance dan menerima wahyu dari Ida Bhatara Dukuh.

Ritual Melawan Bala

Wahyu yang diterima menginstruksikan pembuatan barong macan untuk ritual ngalawang, yaitu mengarak barong keliling desa demi membersihkan energi negatif.

Ritual ini berhasil menghentikan wabah, dan warga melakukan persembahan sebagai tanda syukur.

Dari sinilah lahir Tari Janger Maborbor, yang harus mengikuti pakem gaib sesuai arahan dari dimensi niskala.

Atraksi Magis dan Trance di Tengah Bara Api

Pementasan Tari Janger Maborbor menjadi momen penuh ketegangan. Sebelum dimulai, area pertunjukan disucikan dengan mengarak barong macan.

Para penari, yang terdiri dari 24 orang, membentuk formasi pria dan wanita berhadapan. Keunikan tarian ini terletak pada fenomena trance yang dialami penari hingga penonton.

Tubuh para penari dirasuki berbagai sosok, mulai dari memedi hingga hewan gaib.

Diiringi tabuh baleganjur yang menghentak, mereka tanpa ragu menendang, memakan, bahkan mengusap bara api ke tubuh mereka sendiri.

Beberapa kali bara api dilempar ke arah penonton, menambah suasana mencekam.

“Pernah ada penonton yang meragukan keaslian atraksi ini. Namun, setelah sembarangan berkata, api justru mengarah kepadanya hingga kepanasan,” cerita Widana.

Makna Filosofis dan Persiapan Sakral

Api dalam tarian ini melambangkan pelebur energi negatif menjadi positif.

Sebelum pentas, sesaji berupa nasi, lauk, lawar, hingga darah ayam disiapkan untuk “mengundang” makhluk gaib.

Kostum penari pun tetap tradisional, dengan detail seperti gelungan Janger untuk wanita dan kain lengkap dengan udeng untuk pria.

Pementasan ini biasanya berlangsung selama satu jam, hingga api padam.

Tari Janger Maborbor tidak hanya menjadi atraksi seni, tetapi juga ritual sakral yang menjaga harmoni desa.

Pesona Mistis yang Tak Lekang Waktu

Hingga kini, Tari Janger Maborbor tetap eksis tanpa perubahan, mengikuti pakem yang diwariskan secara turun-temurun.

Keunikan dan nilai sakralnya menjadikan tarian ini ikon budaya Desa Pakraman Metra sekaligus magnet wisata yang menggugah rasa ingin tahu.

Bagi Anda yang penasaran, menyaksikan Tari Janger Maborbor di Bangli adalah pengalaman spiritual dan budaya yang tak terlupakan.

Apakah Anda berani melihat keajaiban ini secara langsung? ***

Editor : I Putu Suyatra
#Janger Maborbor #bali #tarian #bangli #niskala