Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tragedi Mistis Sebelum Longsor di Desa Pikat; Terdengar Suara Minta Tolong, Batu Bercahaya Hantam Korban di Tengah Hujan Deras

I Dewa Gede Rastana • Senin, 20 Januari 2025 | 20:52 WIB
DIHANTAM : Batu besar yang longsor dan menghantam para korban. Insert : Jro Putu Wiranata, pemilik pasraman yang menjadi lokasi longsor.
DIHANTAM : Batu besar yang longsor dan menghantam para korban. Insert : Jro Putu Wiranata, pemilik pasraman yang menjadi lokasi longsor.

BALIEXPRESS.ID – Jro Putu Wiranata, pemilik Pasraman Tirta Sari yang menjadi lokasi tanah longsor di Banjar Cempaka, Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, tidak menyangka jika musibah naas itu akan terjadi di lokasi tersebut, Minggu (19/1/2025). 

Pasraman itu sendiri lokasinya tidak terlalu jauh dari Bale Banjar Cempaka. Namun kita harus melewati jalan beton untuk menuju pasraman tersebut sekitar 1,5 km. Di kiri dan kanan jalan nampak sejumlah rumah warga.

Sampai akhirnya terlihat sebuah pohon besar dan Bale Pesandekan di sebelah kiri. Suasana mistis pun menyambut, terlebih kawasan pasraman itu dikelilingi banyak pepohonan.

Ditemui Senin (20/1/2025), praktisi spiritual yang akrab disapa Jro Tu itu menuturkan jika Pasraman tersebut sudah berdiri selama 3 generasi dan nantinya akan dilanjutkan oleh keponakannya sebagai generasi keempat. Awalnya leluhurnya mendapatkan ilham agar mencari tempat suci untuk dijadikan tempat pemujaan terhadap Tuhan dan tempat menjalankan pengobatan tradisional atau Usadha.

“Jadi leluhur saya yang dulu memugar dan diperbaharui. Kemudian dibangun Arca Dewa Wisnu, luas lahan ini sekitar 3 Hektare, lahannya milik keponakan saya. Tapi bangunannya kecil-kecil,” ujarnya.

Ditambahkannya jika para korban memang biasa membantu Jro Tu untuk bersih-bersih di lokasi setiap minggu, dan biasanya dilanjutkan dengan melakukan puja (semedi) bersama. Selain hari Minggu, kegiatan juga biasanya berlangsung pada Rahina Tilem dan Purnama. “Setiap minggu sehabis bersih-bersih mereka akan melakukan puja (semedi) bersama, yang berobat ya berobat,” lanjutnya.

Namun sesaat sebelum kejadian, hujan deras disertai angin kencang turun di lokasi tersebut. Para korban kemudian berteduh di bangunan wantilan yang ada di lokasi tersebut. Namun para korban disebut sayup-sayup mendengar suara meminta tolong, sehingga para korban mencari-cari sumber suara tersebut.

Ditengah kebingungan mencari sumber suara minta tolong, tiba-tiba ada suara petir menggelegar, namun tidak begitu keras sebanyak dua kali. Naas petir ketiga menyambar dengan suara yang sangat menggelegar diiringi dengan batu besar yang terbang bercahaya kemudian menghantam para korban.

“Petirnya keras sekali, mungkin itu yang membuat batunya seperti bercahaya karena ada aliran listriknya,” imbuhnya.

Ditambahkan oleh keponakan Jro Tu, Ngurah Bayu, situasi di lokasi yang gelap juga kemungkinan membuat para korban tidak bisa menghindar saat batu besar itu terbang dan menghantam mereka.

“Jadi pemedek yang meninggal ini karena dihantam batu itu, kalau tanah saja yang longsor tidak sampai begitu. Tumben seperti ini, sebelumnya tidak pernah,” ungkapnya.

Pasca kejadian naas itu, pihaknya berencana akan menggelar Pecaruan dan telah berkoordinasi dengan pihak adat dan desa setempat. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#pasraman #minta tolong #petir #klungkung #longsor #batu besar