Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

I Putu Supartika, Sang Jurnalis yang Bersajak

Dian Suryantini • Kamis, 23 Januari 2025 | 20:11 WIB

Putu Supartika, jurnalis yang juga seorang sastrawan Bali.
Putu Supartika, jurnalis yang juga seorang sastrawan Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - I Putu Supartika, pria kelahiran Karangasem, 16 Juni1994, mungkin terlihat seperti jurnalis biasa yang sibuk mengejar berita untuk Tribun Bali. Namun, di balik layar laptopnya yang sering mengetik berita, tersembunyi jiwa seni yang mengalir. Ya, meskipun setiap hari berkutat dengan dunia jurnalistik, Putu ternyata memiliki cinta mendalam pada dunia sastra.

Sebagai alumni Jurusan Pendidikan Matematika Undiksha, banyak yang mungkin mengira ia akan menjadi guru matematika yang serius dan dihormati di kelas. Tapi, siapa sangka? Alih-alih menjadi “pendakwah” rumus-rumus integral, Putu memilih jalur yang penuh dengan kata-kata indah, cerita, dan puitik.

“Ya, saya memang suka sastra sejak dulu. Tapi saya juga menyukai matematika,” kata Supartika.

Hingga kini, ia telah menerbitkan beberapa karya sastra yang tidak hanya indah tapi juga kaya akan nilai budaya Bali. Beberapa bukunya yang terkenal antara lain Yen Benjang Tiang Dados Presiden (kumpulan cerpen berbahasa Bali, 2014), Lelakut (kumpulan puisi berbahasa Bali, 2015), dan sebuah judul yang panjang tapi unik: Joged lan Bojog Lua ane Setata Ngantiang Ulungan Bulan rikala Bintange Makacakan di Langite (kumpulan cerpen berbahasa Bali, 2017). Sebagai tambahan, Putu juga menjadi bagian dari terjemahan cerpen Putu Oka Sukanta berjudul Meme Mokoh bersama IDK Raka Kusuma.

Baca Juga: Sosok Sonia Piscayanti, Wanita Kreatif Bidang Sastra dan Seni: Dari Bali Utara hingga ke Panggung Dunia

Karya-karyanya yang penuh makna bahkan telah membawa penghargaan bergengsi. Pada 2017, ia menerima Hadiah Sastera Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung. Tahun berikutnya, ia dinobatkan sebagai Pemuda Pegiat Literasi dalam bidang karya oleh Peguyuban Duta Bahasa Provinsi Bali. Kalau boleh dibilang, penghargaan ini adalah “piala Oscar” versi dunia sastra lokal.

Tapi, jangan kira perjalanan Putu berhenti di situ saja. Ia kini mengelola majalah sastra Bali modern, Suara Saking Bali, dan situs www.suarasakingbali.com. Dengan semangat yang tak pernah surut, ia terus menjadi motor penggerak literasi dan kebudayaan Bali modern.

Oh, dan satu hal yang menarik – meskipun jadwalnya penuh sesak, Putu tetap memiliki waktu untuk bercanda dengan teman-temannya, seolah-olah hidupnya bukan hanya soal puisi dan berita. Ada yang bilang, kalau ingin menemukan Putu, cari saja orang yang sedang tertawa sambil mengetik – mungkin ia sedang merangkai puisi baru atau menulis berita dengan judul yang memancing rasa penasaran.

Begitulah I Putu Supartika – seorang matematikawan yang tak jadi guru. Ia jurnalis yang bersajak, dan pecinta sastra Bali. ***

Editor : Dian Suryantini
#matematika #jurnalis #jurnalistik #sastra #karangasem