Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nurhakim, Si Pembuat Tempe Singaraja, Tetap Setia Gunakan Ragi Tempe

Dian Suryantini • Kamis, 30 Januari 2025 | 00:50 WIB

Nurhakim saat membagi pengetahuan pembuatan tempe khas Singaraja.
Nurhakim saat membagi pengetahuan pembuatan tempe khas Singaraja.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sudut Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Singaraja, seorang lelaki sederhana bernama Nurhakim dengan setia mengolah kedelai menjadi tempe. Sehari-hari, ia bekerja tanpa banyak bicara, membiarkan tangan dan pengalamannya berbicara melalui setiap lembar tempe yang ia hasilkan.

Sejak kecil, Nurhakim sudah akrab dengan kedelai, ragi, air panas, dan keringat. Keahliannya dalam membuat tempe diwariskan dari generasi ke generasi. Kakeknya dulu membuat tempe dengan cara diinjak-injak, lalu ayahnya menggunakan alat giling batu besar untuk memisahkan kulit kedelai. Kini, sejak tahun 1998, Nurhakim memanfaatkan mesin modern untuk memudahkan proses produksi.

“Saya sudah tidak ketemu orang buat tempe yang diinjak-injak. Saya ketemunya yang pakai gilingan batu besar. Harus diputar itu untuk memisahkan kedelai dengan kulitnya. Kalau sekarang gampang, tinggal masukkan dalam mesin,” ujar lelaki kelahiran 11 November 1982 itu, Rabu (29/1).

Meski zaman telah berubah, Nurhakim tetap mempertahankan keaslian rasa tempe dengan menggunakan ragi tempe buatan sendiri. Proses pembuatannya cukup unik. Ia menempelkan bibit tempe pada daun waru hingga jamurnya berkembang. Jika bibit itu telah berubah menjadi ragi, maka kembali ia campurkan pada kedelai saat akan produksi.

Baca Juga: Cerita Sukses Made Mariani Usaha Keripik Tempe di Seririt, Sejak 20 Tahun hingga Pekerjakan 10 Ibu Rumah Tangga

Kedelai yang dicampurkan dengan ragi tempe itu kemudian dibungkus dan didiamkan selama dua hari. Setelah itu, tempe siap untuk diolah dan dikirim ke berbagai tempat.

“Saya masih pakai ragi tempe, karena rasanya beda kalau pakai ragi instan. Di sini (di Taman Sari) rata-rata semua yang buat tempa pakainya ragi tempe yang daun waru itu,” ungkap Nurhakim.

Dalam sekali produksi, Nurhakim mampu menghasilkan 100 kilogram tempe. Produknya tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Singaraja, tetapi juga telah merambah hingga Denpasar dan Gianyar. Konsistensinya dalam menjaga kualitas dan cita rasa tempe menjadikannya salah satu produsen tempe yang dipercaya banyak pelanggan.

Lelaki asal Madura ini tak pernah lelah menjalankan usaha turun-temurun tersebut. Baginya, membuat tempe bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk kesetiaan terhadap warisan keluarga. Dengan ketekunan dan kesederhanaannya, Nurhakim membuktikan bahwa kerja keras dan tradisi dapat berjalan seiring dengan kemajuan zaman. ***

Editor : Dian Suryantini
#kedelai #ragi #tempe #diinjak-injak #Warisan Keluarga #taman sari #singaraja