BALIEXPRESS.ID-Sejak beberapa waktu terakhir, Pulau Serangan menjadi sorotan berbagai pihak.
Hal ini lantaran kelurahan yang masuk di wilayah Kecamatan Denpasar Selatan mengalami sejumlah perubahan.
Baca Juga: Nelayan di Serangan Meradang, Laut Diberi Pembatas Pelampung, Warga Akui Tak Boleh Masuk
Pertama perubahan nama di google maps, yang kini menjadi Pantai Kura-Kura Bali.
Kedua laut di Serangan diduga menjadi milik investor lantaran sejumlah nelayan lokal mengaku tak bisa melaut secara leluasa.
Berikut ini merupakan sejarah singkat dari Pulau Serangan dikutip dari berabagai sumber.
Serangan adalah sebuah pulau kecil yang terletak 5 km di sebelah selatan kota Denpasar, Bali.
Baca Juga: VIRAL! Bentrok Antar Suporter Terjadi Usai Pertandingan Futsal di Buleleng, Tuai Kecaman Warganet
Pulau yang memiliki panjang maksimum 2,9 km dan lebar 1 km ini secara administratif termasuk wilayah Kota Denpasar, Bali.
Kata Serangan sering disebutkan berasal dari kata “sire” dan “angen”.
Dulu, dalam pelayaran yang melelahkan dari Makassar, para pelaut itu sering singgah di Serangan untuk mencari air minum.
Setelah minum di sana, mereka pun akhirnya terkena pengaruh sira angen — merasa sayang atau kangen dengan Serangan.
Baca Juga: Nasib Pegawai Non-ASN Pemkab Bangli yang Tidak Masuk Database Masih Menggantung
Sehingga, tak sedikit dari pelaut Bugis itu memutuskan menetap di sana.
Selanjutnya, mereka pun membentuk pemukiman yang dikenal dengan Kampung Bugis dan beranak-pinak hingga saat ini.
Berikut ini adalah beberapa fakta sejarah Desa Serangan:
- Pulau Serangan dulunya terpisah dari daratan Pulau Bali.
- Pelaut Bugis dari Makassar sering singgah di Pulau Serangan untuk mencari air minum.
- Pelaut Bugis yang singgah di Pulau Serangan merasa sayang atau kangen dengan pulau tersebut.
- Banyak pelaut Bugis yang memutuskan menetap di Pulau Serangan dan membentuk pemukiman yang disebut Kampung Bugis.
- Masyarakat di Pulau Serangan memanfaatkan laut sebagai mata pencahariannya, yaitu sebagai nelayan.
- Pulau Serangan mengalami reklamasi sehingga menyatu dengan daratan Pulau Bali.
Editor : Wiwin Meliana