Heboh! Visual Mirip Dewa Siwa di Atlas Super Club Tuai Kecaman, Polda Bali Turun Tangan
I Gede Paramasutha• Selasa, 4 Februari 2025 | 03:17 WIB
Penggunaan visual Dewa Siwa di Atlas Super Club, Bali.
BALIEXPRESS.ID - Penggunaan visual yang diduga menyerupai Dewa Siwa di Atlas Super Club, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, memicu kontroversi dan kecaman dari berbagai pihak.
Pasalnya, pemutaran simbol agama Hindu di tempat hiburan malam ini dianggap menistakan kesakralan ajaran Hindu.
Polda Bali Lakukan Penyelidikan
Kasus ini kini telah masuk ke ranah hukum. Polda Bali ikut turun tangan dengan mengerahkan tim dari Ditreskrimum untuk melakukan penyelidikan.
“Kami sedang melakukan pengecekan di TKP dan menindaklanjuti video viral tersebut,” ujar Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Ariasandy, pada Senin (3/2/2025).
Ia juga mengungkapkan adanya kemungkinan laporan dari masyarakat terkait insiden ini.
Namun, hingga kini, polisi belum mengungkap hasil pengecekan maupun langkah hukum selanjutnya.
“Saya cek dulu ya,” imbuh Ariasandy.
DPRD Badung Geram: Simbol Agama Bukan Hiburan!
Kemarahan juga datang dari Anggota DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara.
Politisi asal Legian ini menegaskan bahwa simbol agama seharusnya tidak dijadikan gimmick hiburan, apalagi di tempat dugem.
“Sebaiknya hentikan penggunaan simbol sakral dan suci hanya demi kepentingan hiburan. Apalagi di club seperti day club, beach club, maupun night club,” tegasnya.
Ia juga meminta PHDI dan pemerintah daerah untuk memberikan teguran keras kepada manajemen Atlas Super Club agar kejadian serupa tidak terulang.
Pihak Manajemen Atlas Super Club Angkat Bicara
Sementara itu, Media Relation Atlas Beach Club, Bayu Adi, membenarkan bahwa visual tersebut memang pernah ditayangkan.
Namun, pihaknya masih memastikan apakah gambar itu benar-benar Dewa Siwa atau hanya karya seni.
"Memang benar ada pemutaran visual tersebut, tapi kami masih menunggu konfirmasi lebih lanjut, apakah itu memang Dewa Siwa atau hanya sebatas karya seni," ungkapnya.
Bayu juga menambahkan bahwa visual tersebut sebenarnya diciptakan sebagai bentuk apresiasi seni yang terinspirasi dari kultur dan lingkungan Bali.
Ia menegaskan tidak ada unsur pelecehan, penistaan, maupun pencemaran dalam karya tersebut.
Publik Menunggu Tindakan Tegas!
Kasus ini terus menjadi perbincangan panas di media sosial, dengan banyak warganet yang menuntut tindakan tegas dari pihak berwenang.
Apakah benar terjadi penistaan agama? Ataukah ini hanya bentuk ekspresi seni yang salah dipahami? ***