SINGARAJA, BALI EXPRESS - Konservasi penyu memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan, terutama dalam perspektif spiritual Hindu. Dalam mitologi Hindu, terdapat konsep Bedawangnala, yang menggambarkan seekor penyu raksasa sebagai simbol keseimbangan kosmik, menopang dunia di atas punggungnya. Penyu raksasa ini melambangkan stabilitas, perlindungan, dan kesinambungan kehidupan.
Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan, Bedawangnala dalam kosmologi Hindu Bali merupakan simbol kekuatan kosmis yang menopang keseimbangan alam semesta. Simbol ini memiliki makna mendalam dalam kesadaran ekologis masyarakat Bali, terutama karena wilayah ini berada pada jalur tektonik aktif yang rentan terhadap bencana alam.
“Dalam mitologi, Bedawangnala sering digambarkan bersama tiga naga kosmik Ananta, Basuki, dan Taksaka yang masing-masing merepresentasikan unsur tanah, air, dan udara,” ujar Suka, Selasa (5/2) siang.
Dalam Adiparwa disebutkan bahwa penyu raksasa merupakan penjelmaan Batara Wisnu yang berperan sebagai penopang Gunung Mandara. Wisnu menjelma sebagai penyu untuk menopang dasar gunung, sementara Naga Bhasuki melilitnya sebagai tali pemutar, dan Sang Hyang Indra menunggangi puncaknya agar gunung tidak melambung.
Penyu dalam konsep Bedawangnala melambangkan kekuatan kosmis yang menopang keseimbangan alam semesta. Makhluk ini berada di bawah dunia, menopang bumi dan menjadi dasar dari segala kehidupan.
Sebagai simbol stabilitas dan keseimbangan, penyu merepresentasikan hubungan harmonis antara mikrokosmos (Bhuana Alit) dan makrokosmos (Bhuana Agung). Jika keseimbangan ini terganggu, maka bencana seperti gempa bumi dan tsunami dapat terjadi.
Dalam mitologi Hindu, penyu juga berperan sebagai penopang kosmos. Kisah Kurma Avatar menggambarkan Wisnu yang menjelma sebagai penyu raksasa untuk menopang Gunung Mandara saat pengadukan lautan susu oleh para dewa dan asura.
Selain itu, penyu memiliki hubungan erat dengan unsur air, yang melambangkan awal mula kehidupan. Bedawangnala sering dikaitkan dengan bencana air, seperti banjir dan tsunami, yang menunjukkan bahwa kekuatan alam harus dijaga keseimbangannya.
Sebagai makhluk yang bergerak lambat dan memiliki umur panjang, penyu juga menjadi simbol kesabaran, kebijaksanaan, dan siklus kehidupan. Dalam arsitektur sakral Hindu Bali, keberadaan Bedawang Nala di bawah Padmasana pura mengingatkan umat Hindu akan pentingnya menjaga hubungan selaras dengan alam untuk mencapai keharmonisan spiritual dan kosmis. Kisah tersebut mengalami perubahan dalam Purana yang muncul pada masa pasca-Weda.
“Pada tahap ini, penyu yang awalnya dianggap sebagai anak Prajapati yang bergerak di perairan purba kemudian beralih menjadi inkarnasi Wisnu yang menjelma untuk memulihkan kehancuran akibat banjir,” imbuh Suka.
Dalam kepercayaan masyarakat Bali, keseimbangan antara mikrokosmos (Bhuana Alit) dan makrokosmos (Bhuana Agung) menjadi kunci kelangsungan hidup dan harmoni alam.
Jika keseimbangan ini terganggu, dipercaya dapat menyebabkan bencana seperti gempa bumi dan tsunami. Oleh karena itu, keberadaan Bedawang Nala dalam arsitektur sakral, seperti di bawah Padmasana pura, berfungsi sebagai pengingat bagi umat Hindu akan pentingnya menjaga hubungan selaras dengan alam.
Sejalan dengan konsep tersebut, upaya konservasi penyu menjadi bentuk nyata dari menjaga keseimbangan ekosistem laut. Penyu berperan penting dalam menjaga kesehatan terumbu karang dan rantai makanan laut. Namun, eksploitasi dan perusakan habitat telah mengancam keberadaan mereka. Melalui konservasi, manusia tidak hanya melindungi spesies ini, tetapi juga menjaga harmoni alam. ***
Editor : Dian Suryantini