Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bulan Bahasa Bali, Upaya Pelestarian dan Penggalian Bahasa Lokal di Era Digital

Dian Suryantini • Kamis, 6 Februari 2025 | 02:30 WIB

Kegiatan lomba yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng sebagai rangkaian perayaan Bulan Bahasa Bali.
Kegiatan lomba yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng sebagai rangkaian perayaan Bulan Bahasa Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS —Bulan Bahasa Bali, yang dilaksanakan berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 80 Tahun 2018, kembali hadir dengan semarak pada tahun ini. Pergub tersebut menetapkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Bulan Bahasa Bali harus mengikuti petunjuk teknis (juknis) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Oleh karena itu, pembukaan Bulan Bahasa Bali dilakukan serentak di tingkat provinsi, sebelum dilanjutkan ke kabupaten dan kota.

Sekda Buleleng, Gede Suyasa mengatakan, setiap daerah di Bali tetap mempertahankan karakteristik uniknya meskipun kegiatan lomba dan juknisnya sama.

Tantangan utama yang dihadapi adalah meningkatkan substansi dan kualitas penyelenggaraan acara, seperti memperhatikan sarana yang digunakan, menghadirkan juri yang kompeten, serta memberikan arahan dan teknikal meeting yang jelas.

“Hal ini bertujuan agar para peserta dapat tampil maksimal dalam setiap lomba yang diadakan,” ungkap Suyasa, Rabu (4/2) saat menghadiri perayaan Bulan Bahasa Bali di Sasana Budaya Singaraja.

Semakin tahun, perayaan Bulan Bahasa Bali semakin semarak. Meskipun pelaksanaannya di Bali, konteks linguistiknya tidak sederhana. Bahasa Bali memiliki stratifikasi yang kompleks, dengan tingkatan bahasa yang berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat kehalusan bahasa Bali, semakin sulit untuk dipahami.

“Bahasa Bali sendiri terbagi menjadi bahasa halus dan bahasa kasar. Bahasa kasar lebih cepat dipahami oleh masyarakat, sedangkan bahasa halus memerlukan perenungan lebih mendalam,” imbuhnya.

Baca Juga: Jagat Kerti Jagratha Samasta Tema Besar Bulan Bahasa Bali VII di Buleleng

Di daerah seperti Buleleng, bahasa Bali prokem atau bahasa gaul lebih sering digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Namun, melalui Bulan Bahasa Bali, masyarakat didorong untuk mendalami bahasa Bali halus. Para peserta lomba, yang sering didampingi oleh orangtua dan pembimbing, mendapatkan sosialisasi yang efektif tentang penggunaan bahasa Bali yang baik dan benar.

Diharapkan, dengan seringnya berpartisipasi dalam kegiatan Bulan Bahasa Bali, generasi muda akan lebih siap menggunakan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam acara adat. Penggunaan bahasa Bali dalam adat istiadat, seperti saat meminang atau memadik, membutuhkan kehalusan bahasa yang tinggi.

“Dengan pengalaman yang diperoleh dari Bulan Bahasa Bali, para peserta akan lebih siap ketika kelak menjadi tokoh adat,” tambahnya.

Bulan Bahasa Bali juga menjadi momentum untuk menggali kembali kosa kata dan istilah bahasa Bali yang mulai ditinggalkan. Penggalian ini penting dalam menghadapi kehidupan global yang semakin digital dan modern. Upaya ini tidak hanya melestarikan bahasa Bali, tetapi juga memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Baca Juga: KREATIF! Penyuluh Bahasa Bali di Buleleng Gunakan Limbah Plastik untuk Kenalkan Aksara Bali

Melalui Bulan Bahasa Bali, masyarakat diingatkan akan pentingnya menjaga kelestarian bahasa dan budaya Bali. Dengan terus melibatkan generasi muda, bahasa Bali dapat terus hidup dan berkembang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah edukasi dan pelestarian budaya bagi seluruh masyarakat Bali.

“Bulan Bahasa Bali menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman dan digitalisasi, tradisi dan budaya lokal tetap dapat dijaga dan diwariskan. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, bahasa Bali akan terus menjadi identitas yang kuat bagi masyarakat Pulau Dewata,” tutupnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#bulan bahasa bali #kasar #halus #buleleng