Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berkaca dari Kasus 'Ilustrasi Dewa Siwa' di Backround Party Atlas, Akademisi Sebut Perlu tata Ulang Pariwisata, Tempatkan Tradisi di Kedudukan Semula

I Putu Mardika • Senin, 10 Februari 2025 | 01:00 WIB

 

Akademisi Hukum STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Yoga Satriya Wibawa, S.H. M.H
Akademisi Hukum STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Yoga Satriya Wibawa, S.H. M.H
BALIEXPRESS.ID-Kembali terjadi pelecehan simbol suci Agama Hindu di pulau dewata, kali ini simbol suci (Gambar Ilustrasi Dewa Siwa) digunakan sebagai background party di Atlas Beach Club Bali.

Kejadian ini seperti kembali mengorek luka masyarakat setelah rangkaian kejadian sebelumnya yakni kasus kembang api saat ida sulinggih mepuja yang viral sebelumnya.

Akademisis Hukum STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Yoga Satriya Wibawa, MH mengatakan tak dipungkiri pengembangan industri pariwisata di Bali memang memberikan dampak ekonomi yang besar.

Termasuk lapangan pekerjaan yang tak sedikit jumlahnya karena menjadi sektor utama perekonomian masyrakat di Bali. Bahkan, banyak warga Bali yang menerima manfaat dari industri pariwisata di bali saat ini.

Sampai pada titik dimana dampak positif ini diiringi dengan masivenya eksploitasi bali untuk kepentingan industri pariwisata kita.

Kepariwisataan budaya bali yang selama ini menjadi tagline pengembangan pariwisata mulai berjalan tanpa arah.

Banyak perubahan alih fungsi lahan yang tanpa mengindahkan ketentuan perizinan dan tata ruang.

Investor yang sesuka hati membuka usaha penunjang pariwisata, malasah sampah, kemacetan, transportasi publik dari pariwisata yang tidak tertata baik. belum lagi kejadian kejadian dari wisatawan yang berulangkali berulah.

Kejadian di atlas ini sebut Gede Yoga seperti dejavu, terulang kembali pelecehan simbol suci berupa gambar atau ilustrasi dewa siwa yang digunakan tidak pada tempat dan kegiatan yang sesuai.

“Hal ini terjadi akibat dari begitu banyak budaya luar yang masuk akibat pembangunan pariwisata, kemudian menyebabkan pergeseran nilai dalam masyarakat Bali,” kata Yoga.

Generasi muda sebut Yoga saat ini lebih tertarik pada gaya hidup modern dibandingkan menjaga tradisi leluhur.

Kondisi ini berujung kepada kehilangan identitas sampai lupa harus meletakkan simbol simbol suci agama pada tempat yang pas dan sesuai.

Kondisi yang juga berakibat pada kekeliruan menempatkan ruang dan kegiatan yang tak ada kaitannya dengan tradisi, budaya keagamaan pada ruang-ruang yang paling sensitif dan berdekatan atau bahkan diwilayah tempat yang disucikan oleh masyarakat /umat Hindu di Bali.

Kondisi tersebut juga didukung oleh "kebiasaan" baru masyarakat Bali (adat/komunitas adat/kesatuan masyarakat adat/ Desa Adat), dimana banyak tempat suci seperti pura yang kini menjadi destinasi wisata.

Sehingga sering dikunjungi wisatawan tanpa memahami etika dan kesakralan tempat tersebut. Beberapa pura bahkan mengalami gangguan akibat kebisingan atau eksploitasi berlebihan.

Konflik kepentingan antara adat dan pelaku pariwisata juga bukan hal aneh lagi di bali. Sering terjadi konflik antara kebutuhan pariwisata dengan pelaksanaan ritual keagamaan.

“Misalnya, pembangunan hotel atau vila di dekat pura atau tanah adat sering memicu protes masyarakat karena dianggap mengganggu keseimbangan spiritual,” imbuhnya.

Belum lagi masyarakat ketika melaksanakan ritual keagamaan kadangkala mesti mengalah dan menyingkir demi tak mengganggu kenyamanan wisatawan saat masyarakat lunga (pergi) melasti untuk menyucikan pratima dan simbol yang mereka sakralkan dan sucikan.

Kejadian Atlas ini bukan kejadian pertama, dan harapannya ini adalah kejadian terakhir bagi kita (masyarakat Bali).

“Ini bukan saatnya menyalahkan siapa-siapa, bukan saatnya saling menyalahkan. Kejadian (gangguan) sudah kadung terjadi,” sebut Yoga

Menata ulang kepariwisataan budaya Bali harus segera dilakukan. Tempatkan kembali tradisi dan budaya masyarakat Bali pada tempat dan kedudukannya semula.

Lalu berikan tempat baru bagi industri pariwisata untuk dapat hidup dan berkembang tanpa menyentuh sisi sensitif itu.

“Jangan baru kejadian seperti ini kita semua baru mencari siapa yang salah, siapa yang harus di hakimi, atau paling ekstrim menutup tempat usaha yang notabene juga menjadi sumber penghidupan bagi saudara kita yang bergelut di bidang pariwisata,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #agama #hindu #stahn mpu kuturan singaraja #dewa siwa #simbol #atlas