SINGARAJA, BALI EXPRESS - Denpasar, kota yang kaya akan budaya dan sastra, telah melahirkan banyak penulis berbakat. Salah satunya adalah Ni Wayan Eka Pranita Dewi, seorang penyair dan penulis prosa liris yang karyanya telah melintasi batas-batas geografis dan bahasa. Lahir pada 19 Juni 1987, Wayan Eka telah menorehkan jejak kuat dalam dunia sastra Indonesia dengan puisi-puisinya yang sarat makna dan keindahan bahasa.
Karya-karyanya telah menghiasi berbagai media ternama, seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Bali Post, Majalah Sastra Horison, serta jurnal-jurnal sastra terkemuka seperti BlockNot Poetry, Jurnal Sundih, Jurnal Sajak, dan buruan.co. Kepekaan serta kekuatan diksi dalam setiap larik puisinya menjadikan namanya diperhitungkan di kancah sastra nasional.
Tak hanya berkibar di dalam negeri, puisi-puisinya juga menembus batas internasional. Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan menjadi bagian dari antologi "Couleur Femme" atau "Warna Perempuan".
Buku ini diterbitkan sebagai bagian dari program sastra bergengsi di Prancis, Le Printemps des Poètes (Musim Semi Penyair), sebuah perayaan yang mempertemukan para penyair dari berbagai belahan dunia.
Prestasinya tak berhenti di sana. Pada tahun 2014, puisinya kembali menorehkan sejarah dengan masuk dalam Wanna Malai, sebuah antologi sastra Thailand-Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand dan Inggris, semakin memperluas cakrawala sastra yang ia hadirkan.
Dalam setiap karyanya, Wayan Eka menghadirkan kepekaan terhadap kehidupan, pengalaman perempuan, serta nuansa budaya yang mendalam. Puisinya mengalun seperti melodi yang tak hanya menyentuh rasa, tetapi juga membangkitkan renungan.
Dengan perpaduan diksi yang indah dan pesan yang kuat, ia berhasil menciptakan ruang bagi pembaca untuk menyelami dunia batin yang ia bangun dalam setiap bait.
“Sastra bukan hanya soal kata-kata, melainkan juga tentang keberanian menyuarakan pengalaman dan menghadirkan perspektif baru bagi dunia,” kata Eka.
Dari Denpasar hingga ke berbagai panggung sastra internasional, namanya terus bergema, membawa kehangatan dan kedalaman dalam setiap karyanya. ***
Editor : Dian Suryantini