SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, banyak anak muda lebih tertarik dengan teknologi dan gaya hidup perkotaan. Namun, seorang pemuda dari Desa Pedawa, Bali, justru memilih jalan yang berbeda. Putu Yuli Supriyandana, kelahiran 10 Juli 1992, bukan hanya sekadar warga biasa.
Ia adalah seorang pejuang lingkungan, ketua komunitas Kayoman Pedawa, dan sosok yang tak lelah menjaga kelestarian hutan serta sumber mata air di desanya.
Sebagai pemimpin Kayoman Pedawa, Putu Yuli tak sendirian. Ia didampingi oleh Putu Eka Ratnawan sebagai wakil, I Made Suisen sebagai sekretaris, dan Komang Agus Subawa sebagai bendahara. Dengan total 28 anggota dari berbagai latar belakang, komunitas ini telah menjadi garda terdepan dalam upaya pelestarian alam di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Desa Pedawa sendiri merupakan salah satu desa tua yang masih menjaga kearifan lokal dan tradisi leluhurnya. Air bagi mereka bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan elemen utama dalam setiap ritual adat. Kesadaran inilah yang mendorong Putu Yuli dan komunitasnya untuk terus berjuang menjaga sumber daya alam, terutama hutan dan mata air.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Desa Pedawa; Desa Tua di Buleleng, Sebelumnya Bernama Desa Gunung Tambleg
Namun, perjuangan Putu Yuli bukan sekadar wacana belaka. Ia dan komunitasnya secara aktif menggelar aksi penanaman pohon di berbagai kesempatan. Saat banyak orang merayakan hari-hari besar dengan pesta atau hiburan, Pemuda Kayoman justru memilih cara berbeda.
Sumpah Pemuda, Hari Kemerdekaan, Hari Pendidikan Nasional, hingga Hari Kebangkitan Nasional mereka isi dengan kegiatan menanam pohon. Bahkan di Hari Valentine, ketika banyak pasangan muda-mudi sibuk dengan bunga dan cokelat, Putu Yuli dan kawan-kawan justru turun ke alam, menanam pohon sebagai bentuk cinta mereka pada bumi.
“Air adalah sumber kehidupan, dan hutan adalah penjaganya. Jika kita ingin anak cucu kita tetap bisa menikmati air bersih, maka kita harus menjaga hutan dari sekarang,” ujar Putu Yuli dengan penuh keyakinan.
Di bawah kepemimpinannya, Kayoman Pedawa bukan hanya sekadar komunitas, tetapi sebuah gerakan nyata yang menginspirasi banyak orang. Putu Yuli Supriyandana telah membuktikan bahwa mencintai alam tidak harus menunggu bencana datang.
Dengan tangan yang kotor oleh tanah dan hati yang dipenuhi kecintaan pada alam, ia terus bergerak, menanam harapan di setiap pohon yang ia tanam. ***
Editor : Dian Suryantini