Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sahur di Masjid Kuna Keramat, Hangatnya Kebersamaan di Antara Lampu yang Menyala

Dian Suryantini • Jumat, 7 Maret 2025 | 18:18 WIB

 

Photo
Photo

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Jumat, (7/3) dini hari, saat kota Singaraja masih diselimuti gelap, sekelompok mahasiswa melangkah menyusuri gang-gang sempit di Kelurahan Kampung Kajanan, Singaraja. Jam di ponsel mereka menunjukkan pukul 03.40.

Meski kantuk masih terasa, langkah mereka mantap menuju Masjid Kuna Keramat, sebuah masjid bersejarah yang telah berdiri sejak tahun 1654. Malam itu, mereka datang untuk satu tujuan: sahur bersama.

Di bawah temaram lampu bohlam yang menggantung di langit-langit masjid, para pengurus sibuk menggelar tikar, memastikan tempat duduk cukup bagi semua. Di atas meja, puluhan bungkus nasi sudah tersusun rapi, siap untuk disantap. Jumlahnya bertambah tahun ini, dari 50 bungkus menjadi 65, karena di tahun sebelumnya masih ada yang belum kebagian.

“Sekarang 65 bungkus. Kalau sebelumnya 50 bungkus,” ujar Madhari, pengurus takmir urusan PHBI.

Eril Paizi, seorang mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) asal Lombok, merasa beruntung bisa menemukan tempat sahur gratis ini. Sebagai anak rantau yang tinggal di kos-kosan, kesempatan ini membantu meringankan beban pengeluaran.

“Informasinya dari teman-teman Al-Hikmah di kampus. Katanya ada sahur gratis di sini. Langsung saja datang. Insyaallah nanti saya ajak teman-teman yang lain juga,” katanya sambil tersenyum.

Baca Juga: Dari Umat untuk Umat, Masjid Agung Jami' Singaraja Bali Siapkan Sahur Gratis Selama Ramadan

Sebelumnya, kegiatan sahur gratis sempat diadakan di Masjid Jamik Singaraja. Namun, tahun ini program itu tidak lagi berlangsung. Banyak mahasiswa yang merindukan suasana sahur di sana, terutama bubur khas Kajanan yang terkenal lezat. Kini, Masjid Kuna Keramat menjadi tempat berkumpul baru bagi mereka yang mencari kebersamaan dan kehangatan di bulan Ramadhan.

Masjid Kuna Keramat bukan sekadar tempat ibadah. Masjid ini adalah saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Buleleng. Dibangun oleh para pedagang Muslim yang datang berlayar ke Bali, masjid ini dulunya hanya berupa bangunan sederhana dengan empat pilar, berukuran 20x20 meter.

Seiring waktu, masjid ini direnovasi dua kali, pada tahun 1976 dan 2019, tanpa menghilangkan jejak sejarahnya. Artefak seperti pintu masjid, mimbar khotbah yang sudah berusia ratusan tahun, serta ornamen-ornamen khas dari Persia, Cina, Bugis, dan Bali masih dapat ditemukan di sini. 

Malam itu, setelah menikmati nasi bungkus dan jajanan yang disediakan, sebagian mahasiswa memilih untuk mengobrol sambil menikmati suasana. Namun, tidak sedikit yang segera beranjak pulang setelah selesai makan.

Madhari dan pengurus lainnya berharap, setelah sahur, mereka bisa melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid. “Kami ingin mereka sholat dulu di sini, biar lebih terasa Ramadan-nya,” katanya.

Baca Juga: Ngabuburide, Bersepeda Sambil Ngabuburit, Berbuka dengan Bubur Kajanan

Untuk menarik para mahasiswa agar tetap tinggal hingga waktu Subuh, pengurus masjid berencana menyediakan kopi dan teh gratis. “Biar nanti setelah sahur, mereka bisa santai dulu, ngobrol sambil nunggu Subuh. Kalau tidak bawa alat salat, di sini sudah disediakan mukena, sarung, dan peci,” tambahnya.

Bulan Ramadhan tahun ini membawa harapan baru bagi Masjid Kuna Keramat. Pengurus ingin masjid ini kembali hidup dengan berbagai kegiatan keagamaan. Selain sahur bersama, ada pula buka puasa berjamaah, tadarus Al-Qur'an, serta shalat tarawih yang diadakan setiap malam. Gang-gang sempit yang sebelumnya sepi kini menjadi lebih ramai, dipenuhi orang-orang yang datang dengan niat ibadah dan berbagi kebersamaan.

Seiring fajar menyingsing, lampu-lampu di masjid masih menyala, menerangi wajah-wajah yang penuh rasa syukur. Di antara suasana penuh berkah itu, terselip harapan agar silaturahmi yang terjalin tidak hanya bertahan selama Ramadhan, tetapi terus berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya. Karena lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid adalah rumah bagi kebersamaan. ***

Editor : Dian Suryantini
#bohlam #sahur #singaraja #masjid #kampung kajanan